BANTUL - Warga Kalurahan Sidomulyo, Bantul merawat kebudayaan melalui semangat gotong royong dan kebersamaan. Hal itu terlihat dalam perayaan Hari Jadi ke-80 Kalurahan Sidomulyo yang melibatkan hampir 1.500 warga dari 15 padukuhan dalam Kirab Budaya di Lapangan Sidomulyo Minggu (11/10).
Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Ngayogyakarta Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara mengatakan, kebudayaan Jawa tidak sebatas pakaian adat, tarian, maupun bangunan bersejarah. Nilai budaya juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari, seperti gotong royong, tepa selira, unggah-ungguh, menjaga kerukunan, serta saling menghormati.
Keterlibatan warga lintas generasi dalam kirab budaya ini, dinilai menjadi salah satu cara menjaga tradisi agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut berperan sebagai pelaku budaya. “Mugi-mugi di usia 80 ini, Kalurahan Sidomulyo semakin makmur, sejahtera, dan tetep guyub rukun,” harapnya usai kirab.
Baca Juga: Terpaksa Downgrade Gaya Hidup, Kini Pilih Prioritaskan Kebutuhan Pokok daripada Gengsi
Ketua panitia Hari Jadi ke-80 Kalurahan Sidomulyo Wibowo mengatakan, kirab budaya menjadi salah satu rangkaian perayaan yang berlangsung lebih dari 10 hari. Berbagai kegiatan diselenggarakan dengan mengandalkan swadaya dan kreativitas masyarakat.
Sebab, pemerintah kalurahan mengalokasikan anggaran sekitar Rp 13 juta untuk beberapa kegiatan. Sementara itu, sebagian besar kebutuhan lainnya dipenuhi melalui swadaya warga dan dukungan sponsor. "Jadi pemerintah kalurahan tidak mewajibkan harus seperti ini atau seperti itu," ujarnya.
Baca Juga: Putuskan Downgrade demi Jaga Keuangan; Lebih Sehat Dibanding Andalkan Utang, Paylater, Kartu Kredit
Wibowo berharap, dukungan pemerintah, terutama melalui dana keistimewaan dapat memperkuat pengembangan kebudayaan di Sidomulyo. Terlebih saat ini, Sidomulyo masih berstatus Rintisan Desa Budaya. (cr2/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita