BANTUL - Di tengah riuh rendah Kustomfest 2026 yang digelar di Jogja Expo Center, 10-11 Oktober 2026, ada satu motor yang membuat banyak orang berhenti sejenak. Bukan karena suaranya yang menggema atau cat kilapnya yang menyilaukan. Melainkan bentuknya yang begitu berbeda: motor pembawa keranda.
Pengunjung yang biasanya asyik memotret chopper atau cafe racer tiba-tiba berkerumun di sekitarnya. Ada yang menggelengkan kepala tak percaya, ada pula yang berbisik pelan sambil menunjuk detail rangkanya. Suasana seolah berubah. Dari tawa dan sorakan, tiba-tiba jadi senyap penuh rasa ingin tahu.
Motor itu tidak hanya sekadar modifikasi. Ia membawa cerita. Keranda yang dipasang di bagian belakang seolah menyuarakan sesuatu yang jarang dibicarakan di dunia kustom: tentang akhir perjalanan, tentang keberanian menampilkan hal yang biasanya dihindari.
Beberapa orang berdiri lama di depannya. Mereka mengamati setiap sudut, dari rangka besi yang kokoh hingga ornamen yang sederhana tapi bermakna. Ada rasa haru yang mengambang di udara, bercampur dengan kekaguman pada builder yang berani mengambil risiko.
Baca Juga: Siswa SMKN 1 Ngawen Dilatih Komunikasi Hati, Belajar Olah Rasa Ciptakan Kedamaian Hati
Kustomfest 2026 memang selalu menjadi tempat di mana ide-ide liar dibiarkan hidup. Tahun ini, dengan semangat inovasi yang terus digaungkan, para kreator seolah diberi ruang lebih luas untuk menghidupkan kembali semangat lama dalam bentuk baru. Motor pembawa keranda hadir seperti legenda yang tak terduga.
Bukan hanya bentuknya yang menarik perhatian. Cara motor itu dipajang juga menyentuh. Cahaya lampu pameran jatuh di permukaan kayunya, menciptakan bayangan yang panjang. Pengunjung yang lewat seakan diajak merenung sejenak sebelum melanjutkan perjalanan melihat motor-motor lain.
Seorang pengunjung dari luar kota mengaku tidak bisa melewatkan motor tersebut. “Awalnya kaget, tapi makin lama makin merasa dekat,” katanya pelan. “Seperti ada pesan yang ingin disampaikan tanpa kata.”
Di antara ratusan karya yang dipamerkan, motor ini menjadi pengingat bahwa kustom kultur bukan hanya soal kecepatan atau gaya. Kadang, ia juga tentang keberanian menampilkan sisi gelap kehidupan dengan cara yang artistik.
Banyak yang berfoto di dekatnya, tapi dengan sikap berbeda. Bukan pose keren atau senyum lebar. Lebih seperti ingin menangkap momen yang jarang terjadi. Motor itu seolah menjadi cermin kecil di tengah festival yang penuh warna.
Baca Juga: de Wave Luncurkan Precious Single, Ajak Puluhan Peserta Yoga di Gembira Loka Zoo
Hingga malam tiba, kerumunan di sekitarnya tak pernah sepi. Orang datang, diam sejenak, lalu pergi dengan ekspresi yang berubah. Ada yang tersenyum tipis, ada yang menghela napas. Semuanya meninggalkan kesan yang sama: motor itu berhasil menyentuh sesuatu di dalam diri mereka.
Kustomfest 2026 memang masih segar di ingatan. Kenangan tentang motor pembawa keranda akan terus hidup di benak banyak orang. Ia menjadi bukti bahwa dalam dunia yang penuh inovasi, terkadang karya paling sederhana dan berani justru paling lama diingat.
Dan di situlah kekuatan sebuah kreasi. Bukan karena ia sempurna, melainkan karena ia mampu membuat orang berhenti, m elihat, dan merasakan.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja