BANTUL - Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Bantul sejauh ini belum sampai memicu gagal panen. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul menyebut belum menerima laporan petani yang mengalami gagal panen akibat kekeringan.
Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo mengatakan, dampak kemarau terhadap sektor pertanian memang mulai dirasakan. “Kami juga muter-muter (cek lokasi, Red) itu tidak ada kegagalan panen," kata Joko Kamis (1/10).
Menurut Joko, kondisi tersebut tidak lepas dari langkah antisipasi yang dilakukan petani. DKPP Bantul telah menyosialisasikan potensi kemarau panjang sejak April hingga Juni agar petani menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air di masing-masing wilayah.
Baca Juga: Perolehan Pajak Tambang di Kulon Progo Tak Sebanding dengan Kerusakan yang Dialami Daerah
Petani di daerah dengan keterbatasan sumber air memilih menanam palawija yang membutuhkan lebih sedikit air. Sementara di wilayah yang masih memiliki pasokan air, petani tetap menanam padi dengan memilih varietas berumur pendek. "Sehingga nantinya terjadi kemarau panjang, dia sudah panen," ujarnya.
Dari sisi ketersediaan air, kondisi pertanian Bantul juga masih relatif aman. Bantul dilintasi enam sungai dan sebagian besar masih mengalir. Saat ini, hanya satu sungai yang dilaporkan mengalami kondisi kering.
Baca Juga: Dampak El Nino, Beras Sumbang Inflasi Tertinggi di Jogja: Tekan Produksi dan Pasokan di Pasaran
Pasokan air pertanian juga ditopang program irigasi perpompaan (Irpom). Bantul mendapat bantuan 21 titik Irpom yang seluruhnya disebut telah siap digunakan untuk mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian.
Dengan strategi penyesuaian komoditas, pemilihan varietas berumur pendek, serta dukungan sumber air tersebut, DKPP Bantul memperkirakan kemarau panjang tidak sampai menyebabkan gagal panen secara luas. (cr2/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita