Atap TPS Pasar Imogiri Jebol, Usulan Perbaikan Belum Terealisasi sejak Awal Tahun

Aris Romadhon • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 20:28 WIB
MENGKHAWATIRKAN: Atap TPS Pasar Imogiri sudah lama jebol, hingga kini masih belum mendapat perbaikan. Aris Romadhon/Radar Jogja
MENGKHAWATIRKAN: Atap TPS Pasar Imogiri sudah lama jebol, hingga kini masih belum mendapat perbaikan. Aris Romadhon/Radar Jogja

BANTUL - Persoalan sampah di Pasar Imogiri tak masih menyisakan pekerjaan rumah (PR). Sebab, bukan hanya berasal dari aktivitas perdagangan, tetapi juga sampah rumah tangga yang dibuang warga ke tempat penampungan sementara (TPS) pasar. Kondisi ini diperparah dengan atap TPS yang sudah lama jebol, sementara usulan perbaikan yang diajukan sejak awal 2026 hingga kini belum terealisasi.

Lurah Pasar Imogiri Sariyono mengatakan, atap TPS Pasar Imogiri sudah jebol dan hanya menutup sebagian area. Kondisi ini dikhawatirkan menjadi persoalan saat memasuki musim hujan. Air hujan yang masuk ke tumpukan sampah membuat genangan dan menimbulkan bau tak sedap.

“Harapan kami itu bisa segera dibenahi diatapi penuh,” katanya kepada Radar Jogja, Jumat (25/9/2026).

Baca Juga: Tak Ingin Talenta Muda Terputus, PSIM Jogja Perkuat Penghubung Akademi dan Skuad Senior

Sariyono menjelaskan, pengelola pasar telah mengusulkan perbaikan terkait rehabilitasi TPS sejak awal 2026. Namun, hingga kini belum terealisasi. Pun pernah mengusulkan untuk mengganti tempat sampah tertutup dengan wadah berbentuk keranjang yang memungkinkan isi sampah terlihat dari luar.

Hal tersebut didasarkan akan mempermudah pedagang untuk membuang sampah sesuai jenisnya. “Kalau keranjangan kelihatan dari luar itu kan kelihatan, orang sepuh pun bisa membedakan,” ujarnya.

Usulan penggunaan wadah tersebut telah disampaikan sejak April 2026 lalu, hingga kini belum juga terealisasi. Di sisi lain, ia juga memaklumi keadaan tersebut, keterbatasan anggaran dianggap menjadi penyebab usulannya tidak segera terealisasi.

Baca Juga: Perluas Akses Pelayanan Keimigrasian, Kemenimipas Siapkan Kantor Imigrasi Baru di Gunungkidul

Sejatinya, volume sampah dari aktivitas pasar tidak terlalu besar. Sampah dari pasar sendiri diperkirakan hanya sekitar satu hingga dua gerobak setiap harinya. Sampah justru kerap bertambah karena masyarakat dari luar ikut membuang sampah rumah tangga ke TPS.

“Kita yang sering banyak itu kecolongan dari luar, dari masyarakat,” tandasnya.

Bahkan, ada warga yang beralasan sampah tersebut merupakan sisa belanja dari Pasar Imogiri. Persoalan lain muncul dari belum optimalnya pemilahan sampah oleh pedagang. Pengelola sudah menyediakan titik tempat sampah, baik sampah organik atau anorganik.

Sebagian pedagang masih mencampurkan kedua jenis sampah. Kondisi ini salah satunya dipengaruhi mayoritas pedagang pasar yang sudah berusia lanjut. “Kadang asal penting masuk tong gitu saja,” sambungnya.

Baca Juga: Tegakkan Otonomi Daerah, Pemkab Sleman Dituntut Berani Evaluasi Program MBG PascaKeracunan Berulang

Akibatnya, petugas kembali harus memilah sampah ketika membongkar tempat sampah. Pengelola bahkan menempatkan dua petugas di TPS untuk pemilahan.

Saryanto berharap agar jadwal pengangkutan dapat dilakukan setiap hari. Untuk saat ini, pengangkutan sampah hanya dilakukan dua sampai tiga hari dalam seminggu, sampah anorganik diangkut tiap Selasa, untuk sampah organik diangkut tiap Kamis. “Pasar Imogiri kan bukan pasar pasaran Jawa itu enggak, jadi kan produksi sampah logikanya juga tiap hari. Jadi ya jangan dijadwal gitu loh,” terangnya.

Pengangkutan tambahan dapat dilakukan pada Sabtu apabila volume sampah berlebih, pengelola perlu mengajukan permohonan pengangkutan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Baca Juga: Dapat Ultimatum dari Suporter, Huistra: Bukan Mereka yang Menentukan, tapi Manajemen

Tak hanya itu, pengelola juga menghadapi persoalan sampah bonggol pisang. DLH tidak mau mengambil bonggol pisang apabila belum dicacah, dikhawatirkan dapat merusak mesin penghancur sampah. “Pihak pasar belum memiliki alat untuk mencacah bonggol pisang. Untungnya, ada petugas yang mau membawa bonggol pisang untuk pakan ternak,” tambahnya.

Saryono berharap, dengan jumlah pedagang yang terdaftar mencapai sekitar 1.300 orang dan luas Pasar Imogiri hampir lima hektare, persoalan sampah tidak hanya dibebankan kepada petugas pasar. Dukungan sarana dan prasarana, serta kesadaran masyarakat untuk memilah dan membuang sampah pada tempatnya, dinilai penting agar pengelolaan sampah di pasar dapat berjalan lebih optimal.

Dengan demikian, kebersihan pasar tetap terjaga sehingga pedagang maupun pengunjung merasa nyaman dan betah beraktivitas di Pasar Imogiri.

Baca Juga: Mau Nonton DBL Jogja 2026? Begini Cara Beli Tiketnya

Terpisah, seorang pedagang hasil bumi, beras, dan kacang, Sari, menyampaikan, kebersihan di Pasar Imogiri selama ini berjalan tertib. Setelah selesai berdagang, ia mengumpulkan sampah dari aktivitas berjualan selama seharian dan menaruhnya di depan lapak. Keesokan paginya, sampah tersebut sudah dibersihkan oleh petugas. “Kalau di sini tertib, Mas. Enggak pernah ada keluhan sampah menumpuk,” ujarnya.

Hal senada disampaikan pedagang Mi Pentil, Musta’anah. Namun, ia mengaku belum melakukan pemilahan sampah karena jumlah sampah yang dihasilkan dari aktivitas berjualannya relatif sedikit. Sampah tersebut masih dikumpulkan dalam satu wadah.

“Yang saya tahu, saya sudah bayar Rp 10.000 per bulan untuk iuran sampah. Saya tinggal kumpulin saja,” imbuhnya. (cr2/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Atap TPS usulan perbaikan sampah rumah tangga Pasar Imogiri jebol