BANTUL - Berawal dari belajar membuat getuk goreng secara otodidak, Hesti Irawati, 42, warga Poncosari, Srandakan, Bantul, kini mampu memproduksi hampir 7 kwintal getuk goreng per hari. Usaha yang dirintis bersama suaminya sejak 2022 itu berkembang hingga mempekerjakan 17 karyawan dan meraup omzet sekitar Rp 5 juta lebih per pekan.
Hesti mengaku, dengan adanya Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) telah meningkatkan penjualan produknya. Terlebih setelah kawasan Kelok 23 mulai ramai dikunjungi wisatawan. "Apalagi ada sekarang Kelok 23 itu makin laris, Alhamdulillah," ujar Hesti seraya menyebut outlet lain di sekitar kawasan Pantai Baru, Rabu (23/9/2026).
Ia memperkirakan, seiring adanya JJLS penjualan meningkat sekitar 20 persen. Jika sebelumnya berada di kisaran 70 persen, kini tingkat penjualan disebut mencapai sekitar 90 persen. Dari usaha tersebut, omzet mencapai sekitar Rp 5 juta lebih dalam satu pekan.
Baca Juga: Temukan Bukti Percakapan Seksual, Istri Laporkan Gus Nurul dan FN atas Dugaan Perzinaan ke Polda DIY
Perkembangan usaha juga membuat jumlah tenaga kerja bertambah. Saat pertama memulai usaha pada 2022, Hesti hanya dibantu suaminya. Kini, usaha tersebut telah mempekerjakan 17 karyawan.
Hesti mengaku senang karena semakin banyaknya penjual getuk goreng di kawasan JJLS. Bahkan, ia justru senang apabila masyarakat sekitar ikut membuat dan menjual produk serupa.
"Ada yang dari saya, ada juga yang bikin sendiri. Saya sih Alhamdulillah ikut senang kalau lainnya juga bisa buat sendiri," katanya. Kendati sudah ada rencana, ia belum akan membuka outlet lain termasuk di wilayah Kota Jogja.
Baca Juga: PSIM Jogja Baru Raih Satu Poin, Van Gastel Tak Mau Salahkan Diri Sendiri
Tak ada keahlian sebelumnya, ia belajar otodidak membuat getuk goreng ini. Bahkan, untuk mendapatkan resep yang sesuai harus melakukan lima kali percobaan sebelum akhirnya menemukan resep yang digunakan hingga sekarang. Bahan utama yang digunakan berupa singkong dan gula Jawa. Bahan singkong didatangkan dari Wonosobo dan sebagian berasal dari warga sekitar.
Getuk goreng yang diproduksinya memiliki empat varian rasa, yakni original, durian, nangka dan cokelat. Dari empat varian tersebut, rasa original dan durian menjadi produk yang paling banyak diminati. "Yang paling best seller original sama durian," jelasnya.
Dalam sehari, produksi getuk goreng disebut mencapai hampir 7 kwintal. Selain getuk goreng siap makan, Hesti juga memproduksi frozen getuk yang bisa digoreng sendiri. “Produk frozen tersebut dapat bertahan hingga satu bulan, sedangkan getuk goreng siap makan mampu bertahan sekitar tiga hari,” terangnya.
Baca Juga: Dari Lima Hati, Tiga Hati Sudah Hancur, BCS Beri Ultimatum untuk Pieter Huistra dan Manajemen PSS
Produk getuk goreng Hesti dijual dalam beberapa pilihan harga, mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 20.000. Hesti berharap usaha getuk goreng yang dikembangkannya dapat memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat sekitar. Ia ingin usahanya tidak hanya menjadi sumber pendapatan pribadi, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan dan membantu menggerakkan ekonomi warga.
"Memang tujuan saya itu bisa memajukan ekonomi masyarakat sini," imbuhnya. (cr2/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita