BANTUL - Proses panen padi di kalangan petani terus mengalami modernisasi guna memangkas durasi kerja dan menjaga kualitas bulir beras. Salah satu inovasi penunjang yang efisien namun tetap terjangkau adalah alat erek padi semi-modern yang berbasis penggerak motor bensin.
Teknisi PT Arqom Indra Nur Cahya menjelaskan, penggunaan alat erek padi semi-modern berpenggerak motor bensin jauh lebih diminati dalam proses pengolahan padi dibandingkan penggerak listrik. Sebab, penggunaan mesin itu mampu memangkas waktu kerja dan menghemat tenaga para petani di lapangan.
"Sistemnya merontokkan padi secara semi-manual. Jadi operator tetap memegang gagang padi, lalu putaran mesin rontok otomatis bekerja. Penggunaan motor bensin membuat putaran mesin stabil, bahkan kecepatannya bisa disetel sesuai kebutuhan," katanya kepada Radar Jogja, Jumat (11/9).
Baca Juga: Banyak Petani Mulai Tinggalkan Erek Perontok Padi Manual, Ganti yang Pakai Mesin
Menurut Indra, penggunaan mesin itu secara signifikan mempermudah pekerjaan petani dibandingkan metode manual. Jika pada metode manual erek padi harus dikayuh pedalnya atau diengkol tenaga manusia, erek padi berpenggerak motor bensin dapat beroperasi terus-menerus selama bahan bakar tersedia.
Indra menjelaskan, erek padi semi-modern itu memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya penghematan bahan bakar, karena memiliki tangki berkapasitas lima liter bensin mampu mengoperasikan alat hingga setengah hari kerja.
Lalu, alat tersebut dapat membuat efisiensi waktu panen. Lahan sawah seluas satu hektare dapat diselesaikan hanya dalam kurun waktu satu hingga dua jam apabila dikerjakan secara tim atau bergantian.
Baca Juga: Pernah Jadi Alat Canggih, Erek Perontok Padi Dulu Sering Disewakan hingga Jadi Ladang Cuan
Selain itu, putaran rontok padi juga dinilai Indra punya putaran yang stabil. Itu juga dapat disesuaikan kecepatannya, sehingga hasil rontokan padi lebih optimal tanpa merusak bulir.
Tak berhenti sampai di situ, proses desainnya pun juga dinilai terukur. Sebab, proses manufaktur dimulai dari gambar kerja teknis oleh tim desainer yang disesuaikan dengan skala kapasitas produksi, sebelum masuk tahap perakitan workshop.
Terkait proses produksi di workshop PT Arqom, Indra menuturkan pembuatan alat erek padi maupun mesin perontok padi semi-otomatis sangat bergantung pada kebutuhan pengadaan atau proyek pemerintah melalui dinas pertanian maupun kementerian pertanian.
Baca Juga: Komisi IX DPR Setujui Pagu Anggaran BGN 2027 Mencapai Rp 240,2 Triliun
"Saat ini produksi kami berbasis proyek dinas atau instansi pemerintah. Namun tidak menutup kemungkinan ke depan dapat melayani pemesanan dari pihak kontraktor maupun personal," lontarnya.
Indra menuturkan, dari segi efisiensi biaya, unit erek padi semi-modern ini tergolong sangat terjangkau bagi kelompok tani maupun pengembang alat pertanian. Estimasi nilai ekonomis untuk satu unit alat erek padi produksi PT Arqom berada di kisaran tiga hingga lima juta per unit. "Bergantung pada spesifikasi teknis dan kustomisasi penggerak yang digunakan," ungkapnya. (ayu/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja