Dipertanyakan SPPG Patalan 2 dan Diminta Tak Ekspos Kasus, Sekolah Kini Plong Usai Hasil Lab Keluar

Aris Romadhon • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 16:53 WIB
Aktivitas belajar mengajar kembali berlangsung normal di SDN 1 Sumberagung setelah sejumlah siswa dan guru diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG - Aris Romadhon/Radar Jogja
Aktivitas belajar mengajar kembali berlangsung normal di SDN 1 Sumberagung setelah sejumlah siswa dan guru diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG - Aris Romadhon/Radar Jogja

BANTUL - Dugaan keracunan massal yang dialami puluhan siswa SDN 1 Sumberagung, Bantul, menyisakan cerita lain dalam penanganannya.

Sebelum hasil uji laboratorium keluar, pihak sekolah mengaku sempat merasa ikut disorot setelah muncul dugaan bahwa gangguan kesehatan yang dialami siswa bisa saja berasal dari makanan yang dikonsumsi sebelum menerima Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hal tersebut disampaikan Kepala SDN 1 Sumberagung Parjiyatmi saat dikonfirmasi Radar Jogja, Rabu (16/9).

Ia mengatakan, pembahasan mengenai kemungkinan sumber lain itu muncul ketika pihak SPPG Patalan 2 datang ke sekolah dan meminta pihak sekolah mengingat kembali makanan yang dikonsumsi siswa sebelum menerima menu MBG.

Menurut Parjiyatmi, dalam percakapan tersebut pihak sekolah diminta mempertimbangkan kemungkinan bahwa makanan yang dikonsumsi siswa sebelum menerima MBG juga dapat berkaitan dengan keluhan kesehatan yang muncul.

"Siapa tahu dari yang korban itu sebelumnya makan apa, mungkin ya tidak hanya dari SPPG," ujar Parjiyatmi, menirukan pernyataan yang sebelumnya disampaikan pihak SPPG kepada sekolah.

Baca Juga: Prediksi Skor Atletico Madrid vs Osasuna di La Liga, Update Tim, Starting XI dan Skor Akhir

Pernyataan tersebut membuat pihak sekolah merasa seolah ikut disorot dalam kejadian tersebut. Terlebih, saat itu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan belum diketahui.

"Kalimat itu seakan-akan membuat sekolah berada dalam posisi yang serba salah. Lah aku terus mikirnya, waduh ini kok sekolah seperti ikut dipertanyakan," ungkapnya.

Parjiyatmi juga menyebut pihak sekolah sempat diminta tidak mengekspos kejadian tersebut ke luar. Namun, sekolah kemudian meminta agar penanganan dilakukan secara terbuka dengan melibatkan tenaga kesehatan.

Pihak sekolah, lanjutnya, siap apabila pemeriksaan dilakukan oleh Puskesmas maupun dokter untuk mengetahui kondisi dan penyebab keluhan kesehatan yang dialami siswa.

Terkait dugaan makanan lain yang dikonsumsi sebelum menu MBG, Parjiyatmi mengatakan pihak sekolah tetap menyikapinya dengan kepala dingin. 

Ia mencontohkan dugaan konsumsi bakso dalam kegiatan Jumat Berkah yang sempat dicurigai berkaitan dengan keluhan kesehatan.

Menurutnya, bakso tersebut hanya dikonsumsi guru dan karyawan, sedangkan siswa menjadi kelompok yang banyak mengalami dampak dalam kejadian tersebut.

"Tidak mungkin karena yg dapat hanya guru & karyawan. Sedang murid banyak yg terkena dampak. Toh yang penting adalah penanganan segera bagi yang terdampak," ujarnya.

Baca Juga: Jembatan Garuda di Gunungkidul Belum Jadi Pilihan, Warga Gatak Masih Andalkan Jembatan Lama

Lanjutnya, ia juga memastikan makanan jajanan yang dijual di sekolah melalui Kantin Barokah telah berada dalam pengawasan pihak sekolah. Kantin tersebut bekerja sama dengan wali murid sebagai pemasok jajanan.

"Untuk 'Kantin Barokah' sekolah kami insyaAllah sehat, karena sudah kerja sama dengan wali murid sebagai pemasok jajanan, dengan pengawasan ketat dari tim Kantin Sekolah," ujarnya.

Keraguan pihak sekolah mulai mendapat titik terang setelah hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan keluar.

Hal tersebut didasarkan pada informasi Dinas Kesehatan Bantul pada Selasa (15/9), yang menunjukkan hasil positif mengandung bakteri Bacillus sp. pada makanan MBG yang didistribusikan SPPG Patalan 2.

"Sekarang saya plong, Mas," ujar Parjiyatmi. (Cr2)

Editor : Bahana.
SDN 1 Sumberagung MBG Bantul SPPG Patalan 2 Bacillus sp keracunan mbg