BANTUL - Jaringan Advokasi Melindungi Pekerja Informal (Jampi) DIY bersama sejumlah LSM menggelar doa bersama untuk tolak bala kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Doa bersama itu diharapkan dapat menjadi upaya untuk menghentikan program MBG.
Koordinator Jampi DIY Hikmah Diniya mengatakan, bersama sejumlah LSM menyerukan agar program-program pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat, terutama perempuan dan pekerja informal, dihentikan. Salah satunya yakni MBG.
"Karena benar-benar berdampak pada kehidupan anak-anak kita," jelasnya saat ditemui di Yayasan Annisa Swasti setelah doa bersama, Jumat (11/9).
Baca Juga: Pemeriksaan Siswa Diduga Keracunan MBG di Jetis Bantul Ternyata Diminta Pihak Sekolah
Menurutnya, pemerintah perlu segera menangani pihak yang bertanggung jawab atas kasus makanan yang menyebabkan keracunan. Dia menilai persoalan itu bukan perkara biasa, melainkan sebuah pelanggaran.
Dikatakan, masih banyak program lain yang lebih bermanfaat bagi masyarakat dibandingkan MBG. "Ini menjadi refleksi, kami berkomitmen, karena orang tuanya adalah kami, ini perintah kita untuk menolak MBG," tegasnya.
Dia pun mengajak masyarakat yang memiliki anak di sekolah untuk bersama-sama mendesak pemerintah menghentikan program tersebut. Menurutnya, kondisi Indonesia saat ini sedang menghadapi situasi darurat, terutama dari sisi keuangan, sehingga program yang dinilai berdampak buruk kepada masyarakat lebih baik dihentikan. "Ada hal lain yang lebih prioritas, karena penerima MBG tidak semua rakyat miskin," tuturnya.
Baca Juga: Korban MBG di Pandowoharjo Capai 389 Orang, Hasil Lab Temukan Bakteri Bacillus Cereus pada Sampel
Sementara itu, Pengacara Publik LBH Jogja Royan Juliazka Chandrajaya mengatakan, anggaran untuk program MBG berdampak pada pengurangan anggaran untuk sektor lain, termasuk pendidikan dan kesehatan. Padahal, kedua sektor tersebut merupakan kebutuhan esensial masyarakat.
"Ini ditolak (program MBG, Red) bukan karena keracunan atau korupsi, tapi lebih ke soal programnya nggak masuk akal," jelasnya.
Menurutnya, anggaran besar seharusnya dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat, seperti membuka lapangan pekerjaan. Dia menilai program MBG sejak awal memiliki persoalan secara esensial karena pengelolaan dapur MBG justru dinilai lebih banyak dikuasai oleh orang-orang yang memiliki modal.
Dia berharap program MBG dapat dihentikan. Menurutnya, doa bersama yang dilakukan merupakan bagian dari ikhtiar spiritual. Para ibu yang hadir meyakini doa itu dapat menjadi perantara untuk menyampaikan harapan kepada Tuhan. "Doanya juga untuk menghukum pejabat yang korupsi menggunakan uang rakyat," tandasnya. (cin/laz)
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja