BANTUL - Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul mencatat ada 142 kasus leptospirosis dengan enam pasien meninggal dunia hingga kemarin (11/9). Seluruh pasien yang meninggal diketahui memiliki penyakit penyerta atau komorbid.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul Samsu Aryanto mengatakan, kasus leptospirosis paling banyak ditemukan di Kapanewon Bantul.
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia. Salah satu sumber penularannya berasal dari bakteri Leptospira. “Berasal dari urine atau kotoran tikus,” ujar Samsu Jumat (11/9).
Baca Juga: NTT Jajaki Investasi Telekomunikasi DIY, HB X: Internet Jangan Jadi Mahal: Ini Tarifnya!
Menurutnya, penularan dapat terjadi ketika seseorang bersentuhan dengan air atau tanah yang telah tercemar bakteri tersebut. Bakteri kemudian dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka pada kulit maupun melalui mata, mulut, atau hidung.
Masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala yang muncul. Leptospirosis antara lain ditandai demam mendadak disertai menggigil, sakit kepala, serta nyeri otot, terutama pada bagian betis. Gejala lain yang perlu diwaspadai yakni mata merah atau menguning hingga gangguan pernapasan. “Hingga gangguan pernapasan,” tambahnya.
Baca Juga: Mikie Funland Berastagi, Tempat Bermain dan Menantang Keberanian di Tengah Sejuknya Dataran Tinggi
Samsu mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang beraktivitas di lingkungan yang berpotensi terpapar urine tikus. Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan serta mengurangi kontak dengan tikus.
Warga yang beraktivitas di sawah, kandang, gudang yang banyak tikus, maupun lokasi yang bersinggungan dengan air kotor dianjurkan menggunakan alas kaki dan alat pelindung diri (APD).
Jika mengalami gejala seperti demam, nyeri otot pada betis, dan sakit kepala, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. “Pemeriksaan dini diperlukan agar kasus dapat segera ditangani dan tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih berat,” ujarnya. (cr2/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita