Kali Pertama Digelar, Forum Saling Tukar Pengalaman Pengelola Perpustakaan

Aris Romadhon • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 21:24 WIB
TINGKATKAN LITERASI: Sebanyak 30 orang pengelola perpustakaan kalurahan dan TBM se-DIY mengikuti wisata pustaka ke Pustaka Desa Wukirsari, Imogiri, dan TBM Jembatan Edukasi Siluk, Bantul, kemarin (10/9). Aris Romadhon/Radar Jogja
TINGKATKAN LITERASI: Sebanyak 30 orang pengelola perpustakaan kalurahan dan TBM se-DIY mengikuti wisata pustaka ke Pustaka Desa Wukirsari, Imogiri, dan TBM Jembatan Edukasi Siluk, Bantul, kemarin (10/9). Aris Romadhon/Radar Jogja

 

BANTUL - Kegiatan bertajuk wisata pustaka digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY. Wisata pustaka diikuti 30 orang peserta. Mereka terdiri atas 15 pengelola perpustakaan kalurahan dan 15 pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) se-DIY. Ada dua lokasi yang dikunjungi. Pustaka Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul, dan TBM Jembatan Edukasi Siluk Bantul.

“Wisata pustaka ini baru berlangsung kali pertama diadakan,” ujar Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan DPAD DIY Zulfa Kurniawan di sela acara kemarin (10/9).

Baca Juga: Buku Datang ke Sekolah, Fiksi Jadi Favorit Siswa: Perpustakaan Keliling Perluas Akses Sumber Belajar

Dikatakan, wisata pustaka menjadi wadah saling berbagi pengalaman. Sekaligus melihat secara langsung pengelolaan perpustakaan yang telah berjalan dengan baik. Kedua lokasi yang dikunjungi pernah meraih prestasi membanggakan di tingkat nasional. Selain itu, wisata pustaka juga menjadi bagian dari upaya menjaring daftar inventaris masalah (DIM) terkait pengelolaan perpustakaan di tingkat kalurahan dan TBM.

Kegiatan ini dilaksanakan bersama Komisi D DPRD DIY. Keterlibatan dewan ini menjadi ruang bagi para pengelola perpustakaan menyampaikan aspirasi, masukan, dan berbagai persoalan yang mereka hadapi. “Khususnya dalam mengelola perpustakaan di masing-masing wilayah,” tandas Zulfa.

Diakui, masih terdapat kesenjangan dalam pengelolaan perpustakaan di DIY. Karena itu, pengelola perpustakaan yang sudah berjalan baik dipertemukan dengan pengelola dari wilayah lain.  Harapannya terjadi pertukaran pengalaman dan pengetahuan di antara mereka.

Zulfa menilai, pengelolaan perpustakaan kalurahan dan TBM merupakan garda terdepan karena berhubungan langsung dengan masyarakat. Penguatan terhadap fasilitas dan pengelolaannya dinilai penting untuk mendorong budaya literasi. Rendahnya minat baca masyarakat tak selalu berhubungan dengan rendahnya kemauan membaca. Kondisi fasilitas, akses, hingga ketersediaan koleksi buku juga dapat memengaruhi minat masyarakat datang.

Dia berharap persoalan literasi tidak berhenti dengan menyalahkan minat baca masyarakat. Tapi juga mendorong perbaikan fasilitas dan kegiatan perpustakaan agar menjadi ruang alternatif yang menarik. Ke depan, DPAD DIY berencana kegiatan wisata pustaka diperluas ke wilayah Sleman, Kulon Progo dan Kota Yogyakarta. "Banyak perpustakaan maupun TBM yang sudah dikelola baik sehingga bisa kemudian dikunjungi," ujar Zulfa.

Menyambut kunjungan peserta Wisata Pustaka, Lurah Wukirsari Susilo Hapsoro mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurut dia, pertemuan antarpengelola perpustakaan menjadi kesempatan saling bertukar pengalaman. "Kita bisa sharing-sharing bersama. Bisa menyampaikan unek-unek  kepada ibu anggota dewan dewan," ujar Susilo.

Dewan yang dimaksud Susilo tak lain Anggota Komisi D DPRD DIY Tustiyani yang hadir di lokasi. Menanggapi itu, Tustiyani mengatakan, acara tersebut  menjadi kesempatan bagi dirinya mendengarkan aspirasi para pengelola perpustakaan dari kabupaten dan kota se-DIY.

Baca Juga: Jadi Magnet Baru, Bazar Buku Murah Turut Dongkrak Kunjungan Perpustakaan Umum Kabupaten Bantul

Mantan ketua DPRD Bantul ini ingin forum silaturahmi  antarpengelola perpustakaan terus terjaga. Itu sebagai upaya meningkatkan budaya literasi. "Ini agar  masyarakat mencintai literasi dan bisa senang membaca. Tentu saja kalau  bisa mengendalikan gadget bagi generasi muda kita," ajak Tustiyani.

Peserta wisata pustaka dari TBM Temon Pandowoharjo Asmariah menilai, kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi pengelola TBM. Menambah inovasi, memperluas jejaring dan memberikan referensi yang dapat diterapkan di tempat masing-masing. "Saya senang karena ada beberapa usulan supaya kegiatan ini ditambah durasinya, Dari dua kali menjadi empat kali setahun," cerita Asmariah. (cr2/kus)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Sumber : Radar Jogja
DPAD DIY dprd diy perpustakaan arsip