Merawat Tradisi, Jaga Rasa Syukur Warga Paker lewat Merti Dusun Tiap September

Aris Romadhon • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 20:45 WIB
NGURI-URI BUDAYA: Bregada dari salah satu peserta kirab bersiap mengikuti rangkaian acara Merti Dusun Paker, Mulyoadi, Bambanglipuro Minggu (6/9). (Aris Romadhon/Radar Jogja)
NGURI-URI BUDAYA: Bregada dari salah satu peserta kirab bersiap mengikuti rangkaian acara Merti Dusun Paker, Mulyoadi, Bambanglipuro Minggu (6/9). (Aris Romadhon/Radar Jogja)

BANTUL - Mengenakan busana tradisional dan membawa berbagai atribut budaya, ratusan warga Paker, Mulyodadi, Bambanglipuro, Bantul berjalan bersama dalam kirab budaya Minggu (6/9). Kirab tersebut menjadi bagian dari rangkaian Merti Dusun Paker yang rutin digelar warga setiap September.

Bagi masyarakat Paker, Merti Dusun bukan sekadar tradisi. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus merawat budaya Jawa agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Dukuh Paker Ibnu Restu Aji mengatakan, merti dusun merupakan bentuk syukur warga atas hasil pertanian serta segala sesuatu yang diberikan alam kepada masyarakat. “Untuk bersih desa dan ungkapan rasa syukur warga, karena pertaniannya melimpah ruah dan diberikan segalanya dari alam di bumi Paker,” ujar Ibnu.

Baca Juga: Wisatawan Naik, Okupansi Hotel Malah Turun, Dispar DIY Siapkan Event untuk Perpanjang Masa Tinggal

Tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun. Pada awalnya, merti dusun digelar setiap tahun dengan salah satu rangkaiannya berupa pentas wayang. Namun, sejak 2008 pelaksanaannya diubah menjadi dua tahun sekali.

Kemudian sejak 2022, warga menambahkan kirab budaya sebagai bagian dari perayaan. Hingga kini, rangkaian merti dusun tetap dipertahankan dan digelar setiap September.

Rangkaian kegiatan tidak hanya berlangsung dalam sehari. Kirab budaya digelar pada Minggu Legi, sedangkan kenduren sebagai bagian dari selamatan warga dilaksanakan pada Senin Pahing. Dalam kirab tahun ini, empat bregada turut ambil bagian. Masing-masing berasal dari kelompok warga di wilayah Paker.

Bregada Wangsayuda berasal dari RT 1 dan RT 2 atau Kelompok Senen Paing. Kemudian Bregada Onggoyuda berasal dari RT 3 dan RT 4 atau Kelompok Selasa Kliwon Kidul. Bregada Prawirayuda berasal dari RT 5 atau Kelompok Selasa Kliwon Lor. Sementara Bergada Tarunayuda berasal dari Rukun Kampung Pete yang mencakup RT 6, 7, dan 8.

Baca Juga: SSB Bangunharjo Bantul Konsisten Bina Pesepak Bola Muda Lokal Tembus Level Nasional

Kirab semakin semarak dengan kehadiran kelompok tani, kelompok usaha bersama ternak kambing, hingga kelompok kesenian rebana yang berjalan di belakang rombongan bergada. Keterlibatan berbagai kelompok tersebut menunjukkan bahwa merti dusun tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan kesenian. Tradisi tersebut juga menjadi gambaran kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Paker yang ikut dirayakan bersama. “Sekitar 700 hingga 1.000 orang ikut ambil bagian dalam berbagai rangkaian merti dusun,” ungkap Ibnu.

Kemariahan Merti Dusun juga menarik perhatian masyarakat dari luar Paker. Caldera Abel Fida Haryanta, mahasiswa KKN UNY asal Wonosobo menilai, tradisi tersebut menarik karena masyarakat masih memiliki semangat untuk mempertahankan budaya yang diwariskan leluhur.

 

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu cara agar tradisi tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Ketika warga ikut terlibat, budaya Jawa memiliki ruang untuk terus dikenalkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (cr2/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
paker merti dusun paker trasdisi merti dusun rasa syukur