BANTUL - Lemper frozen buatan Isnaini, warga Mayungan RT 2, Murtigading, Sanden, kini tak hanya dinikmati masyarakat lokal. Makanan tradisional berbahan ketan dan isian ayam itu tembus Australia setelah dibawa untuk oleh-oleh.
Isnaini mulai mengembangkan lemper frozen pada 2024 setelah mendapat permintaan dari keponakannya yang tinggal di Jakarta agar lemper buatannya dapat bertahan lebih lama.
"Pertama-tama tahun 2024 itu keponakan saya di Jakarta minta lemper yang bisa awet. Terus caranya saya frozen,” ujar Isnaini saat ditemui Radar Jogja (4/9).
Sebelumnya, Isnaini mulai membuat lemper sekitar tahun 2015. Namun lemper yang dibuatnya masih dipasarkan dalam kondisi biasa, sehingga hanya memiliki daya tahan terbatas, sekitar dua hari. Sementara setelah melalui proses frozen dan dikemas secara vakum, lemper dapat bertahan hingga tiga bulan.
Baca Juga: Sama-sama Terbuat dari Ketan dan Gula Merah, Ini Perbedaan Wajik dan Wajit Makanan Khas Tradisional
Perjalanan terjauh lempernya terjadi saat seorang mahasiswa membawa produk itu sebagai oleh-oleh ke Australia. "Pernah ada yang kuliah di sana, coba-coba membawa oleh-oleh lemper ke Australia,” ujarnya.
Satu kemasan lemper frozen berisi 10 buah dengan harga Rp 30.000. Artinya, satu buah lemper dibanderol Rp 3.000.
Terkait produksi lemper, Isnaini hanya dibantu anggota keluarganya. Dalam sehari mereka mampu memproduksi sekitar 400 hingga 500 lemper. Jumlah itu dapat meningkat ketika memasuki momentum tertentu seperti Lebaran. "Kalau Lebaran, hari pertama saja sekitar 1.500 biji," tuturnya.
Pemasarannya pun masih tergolong konvensional. Sebagian besar konsumen mengetahui produknya melalui rekomendasi dari pelanggan sebelumnya. "Kita pesannya dari mulut ke mulut,” ujarnya. (cr1/laz)
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja