BANTUL - Keterbatasan anggaran tak menyurutkan langkah Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Bantul untuk terus melestarikan kebudayaan lokal. Disbud Bantul meluncurkan serangkaian strategi inovatif dengan mengandalkan partisipasi masyarakat guna memperkuat kembali nilai-nilai luhur Jawa.
Langkah yang ditempuh adalah menggeser fokus dari sekadar memfasilitasi pertunjukan seni menjadi gerakan seni budaya kemasyarakatan.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul Yanatun Yunadiana, mengatakan memfasilitasi pelaku seni secara konvensional dinilai kurang efektif dalam menanamkan nilai-nilai budaya ke masyarakat.
Baca Juga: Dikebut! Konstruksi Sudah 90 Persen, Proyek Tol 2.2 Trihanggo-Junction Ditarget Fungsional Nataru
Oleh karena itu, percepatan penyerapan nilai budaya kini dilakukan melalui Rintisan Desa Budaya dan kerja sama dengan perguruan tinggi, komunitas seni, serta organisasi budaya yang ada untuk Bantul.
"Kalau hanya mengandalkan atau menunggu fasilitas dari kami, pendanaannya semakin lama semakin turun," ujar Yanatun kepada Radar Jogja, Kamis (3/9/2026).
Salah satu program yang telah terealisasi adalah pelatihan pembuatan film pada Mei lalu yang menggaet akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta serta praktisi sinema lokal. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang menyasar pelajar SMK dan komunitas sinema, program kali ini menyasar anggota Rintisan Desa Budaya dari kelurahan-kelurahan di Bantul.
Baca Juga: Bukan Cuma 28, Dinkes Ungkap Fakta Korban Dugaan Keracunan MBG di Sleman ada 229 Orang
Pada Agustus, hasil karya peserta kemudian dilombakan. Hasilnya, delapan kelurahan berkompetisi mengangkat tema pepatah Jawa yang dikaitkan langsung dengan problematika sosial di lingkungan mereka, banyak yang mengangkat tema maraknya pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online. Karya-karya tersebut bahkan mendapat apresiasi khusus dalam ajang Puncak Kegiatan Literasi di Grhatama Pustaka DIY.
Selain media film, Dinas Kebudayaan Bantul memperluas kemitraan dengan perguruan tinggi seperti ISI dan AKNSB, serta merangkul Forum Seni Rupa Bantul.
“Sektor seni rupa dan kriya dipandang memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian dan ekspor daerah,” tambahnya.
Baca Juga: Pengumuman! Lomba Baris Berbaris Tingkat Kota, Ini Lima Sekolah Wakili Jogja Maju Tingkat Provinsi
Guna mengatasi efisiensi anggaran pada pertunjukan dan upacara adat, Dinas Kebudayaan menerapkan pola bantuan berupa stimulan terbatas.
Pemerintah daerah membiayai sebagian pelaku seni, sementara pelaksanaan acara, seperti merti dusun dan festival upacara adat dijalankan melalui swadaya masyarakat. Pola gotong royong ini terbukti mampu memicu partisipasi warga demi menjaga tradisi lokal tetap hidup. (cr2)
Editor : Winda Atika Ira Puspita