Dampak Kemarau, 6.212 Warga di Kabupaten Bantul Alami Krisis Air Bersih

Aris Romadhon • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 20:00 WIB
SEDOT YUK: Warga sedang menyedot air menggunakan mulut di Sendang Wonosari dan Padukuhan, Kamis (30/7). Selang panjang itu untuk mengalirkan air menuju rumah masing-masing warga. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
SEDOT YUK: Warga sedang menyedot air menggunakan mulut di Sendang Wonosari dan Padukuhan, Kamis (30/7). Selang panjang itu untuk mengalirkan air menuju rumah masing-masing warga. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)

BANTUL - Kemarau di Kabupaten Bantul mulai berdampak serius. Sebanyak 6.212 warga dari 1.453 keluarga di enam kapanewon kini terdampak kekurangan air bersih. Hingga 31 Agustus 2026, sebanyak 1.644.000 liter atau setara 318 tangki air telah didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan warga.

Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Kabupaten Bantul Antoni Hutagaol mengatakan, krisis air bersih terutama terjadi di wilayah perbukitan dan dataran tinggi. Kondisi tersebut membuat kebutuhan distribusi air terus meningkat.

Baca Juga: Musim Kemarau, Kebakaran Hutan dan Lahan Meningkat di DIY: Kasus Terbanyak Terjadi di Gunungkidul

Distribusi air bersih dilakukan secara kolaboratif bersama sejumlah instansi dan pihak donatur. Dari total 318 tangki yang telah disalurkan, BPBD Bantul menyumbang 42 tangki, PMI Bantul 49 tangki, Tagana 13 tangki, dan BBWSSO tiga tangki. “Sementara bantuan dari donatur mencapai 211 tangki,” bebernya Rabu (2/9). 

Bantuan tersebut telah menjangkau enam kapanewon, 11 kalurahan, dan 21 padukuhan. Total warga terdampak mencapai 6.212 jiwa.

Antoni memastikan penanganan masih terus dilakukan. Status Siaga Darurat Kekeringan di Kabupaten Bantul berlaku hingga 25 September 2026. BPBD bersama tim gabungan terus memantau wilayah yang berpotensi mengalami krisis air dan menyiapkan distribusi lanjutan apabila dibutuhkan.

 Baca Juga: Diduga Keracunan Usai Makan MBG, 83 Santri Ponpes Manbaul Hikam Dirawat

Salah satu wilayah yang cukup terdampak berada di Kapanewon Pajangan. Kalurahan Guwosari dan Triwidadi menjadi kawasan yang dominan menerima bantuan air bersih.

Plt Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Pajangan Danu Ari Wahyu Purnomo mengatakan, kondisi geografis membuat sejumlah wilayah di Pajangan lebih rentan mengalami kekeringan. Sebagian wilayah berada di kawasan perbukitan dengan karakter tanah berbatu.

“Tanahnya kerakal. Dari Guwosari ke Triwidadi itu jalurnya naik, dan daerah di atas itulah yang potensi krisis airnya paling besar,” ujar Danu. (cr2/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
bpbd kabupaten bantul kemarau kabupaten bantul kekurangan air bersih krisis air bersih