Damkarmat Kabupaten Bantul Catat Ada 83 Kebakaran Lahan sejak Awal Tahun, Imogiri Terbanyak

Aris Romadhon • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 19:15 WIB
Penanganan kebakaran lahan oleh Damkarmat Kabupaten Bantul. (Istimewa)
Penanganan kebakaran lahan oleh Damkarmat Kabupaten Bantul. (Istimewa)

BANTUL – Kebakaran lahan masih menjadi persoalan berulang di Kabupaten Bantul. Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Bantul mencatat 83 kejadian kebakaran lahan sejak awal tahun hingga 20 Agustus 2026. Kapanewon Imogiri menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 16 kejadian. Berikutnya Piyungan dengan 11 kejadian, sedangkan Banguntapan dan Kasihan masing-masing mencatat sembilan kejadian.

Data Damkarmat Bantul menunjukkan, sebagian besar kebakaran dipicu faktor manusia. Sebanyak 44 kejadian disebabkan kelalaian, 22 kejadian diduga dilakukan sengaja, dan enam kejadian berkaitan dengan aktivitas membakar sampah. Sementara itu, penyebab sejumlah kejadian lainnya masih belum diketahui.

Baca Juga: Tanpa Kemenangan di Lima Laga Terakhir, Inter Miami Tunjuk Kily Gonzalez Sebagai Nahkoda Anyar

Kabid Damkarmat Bantul Kristanto Kurniawan mengatakan, kebakaran yang terjadi di Bantul lebih tepat disebut kebakaran lahan. Fenomena tersebut berbeda dengan kebakaran hutan yang terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan.

Menurut dia, kebakaran lahan di Bantul umumnya bermula dari aktivitas warga membersihkan lahan dengan membakar daun-daun kering. Api yang sengaja dinyalakan untuk mempermudah pembersihan dapat membesar ketika tidak diawasi.

Baca Juga: Festival Mustika Rasa Hadir di Jogja, Hasto Wardoyo Ajak Warga Nikmati Warisan Kuliner Bung Karno

“Lebih kepada sebenarnya ada unsur pembersihan daun-daun yang kering,” ujar Kristanto kepada Radar Jogja, Jumat (28/8)

Kristanto juga menegaskan, kondisi kemarau tidak serta-merta membuat lahan terbakar secara alami akibat panas matahari. Menurutnya, api umumnya tetap membutuhkan pemicu. “Secara alami, panas matahari di wilayah DIY masih jauh untuk memercikkan menjadi sebuah api,” jelasnya.

Persoalan muncul ketika api yang dinyalakan warga tidak terkendali. Terlebih, kebakaran yang terjadi di lereng bukit mudah meluas karena dipengaruhi arah dan kecepatan angin. “Kita kan tidak bisa mengontrol, arah anginnya ke mana,” katanya.

Baca Juga: Atasi Dampak Kemarau, Astra Motor Yogyakarta Salurkan Bantuan 20 Tangki Air Bersih ke Gunungkidul

Api bahkan dapat merembet hingga lintas wilayah. Kristanto mencontohkan kejadian tahun sebelumnya ketika kebakaran yang bermula di wilayah Gunungkidul merembet ke Bantul. Kondisi sebaliknya juga bisa terjadi.

Selain mengancam lahan dan permukiman, kebakaran juga berpotensi mengganggu transportasi. Asap maupun api di sekitar jalur kereta api dapat berdampak terhadap jaringan kabel dan sistem persinyalan. “Karena ada jalur kereta listrik. Sinyal atau jaringan kabelnya juga bisa terdampak,” ujarnya.

 

Penanganan kebakaran lahan di kawasan perbukitan juga tidak mudah. Armada pemadam kerap tidak bisa menjangkau lokasi karena medan berupa lereng maupun hamparan sawah. Petugas akhirnya mengandalkan peralatan manual dan membutuhkan banyak personel. “Kita manual. Alat manual itu perlu orang yang banyak untuk menangani, ya digepyok,” jelas Kristanto.

Untuk mencegah kejadian berulang, Damkarmat Bantul meningkatkan sosialisasi di wilayah rawan kebakaran. Spanduk imbauan dipasang di sejumlah kawasan, seperti Imogiri, Pundong, Piyungan, dan Sedayu.

Masyarakat juga diimbau tidak sembarangan membakar sampah, terutama daun kering. Jika pembakaran terpaksa dilakukan, warga diminta memperhatikan kondisi angin dan tidak meninggalkan lokasi sebelum api benar-benar padam. (cr2)

Editor : Sevtia Eka Novarita
damkarmat kabupaten bantul kebakaran lahan kemarau Kebakaran Imogiri