Bantul Punya 2.000 Hektare Lahan SG, Bisa Jadi Lumbung Gula Lagi?

Aris Romadhon • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 20:00 WIB
Sejumlah petani membersihkan sisa-sisa hasil panen tebu di kawasan Kebun Depok. Aris Romadhon/Radar Jogja
Sejumlah petani membersihkan sisa-sisa hasil panen tebu di kawasan Kebun Depok. Aris Romadhon/Radar Jogja

BANTUL - PT Madubaru menargetkan perluasan areal tanam tebu di DIY hingga 1.000 hektare untuk mengurangi ketergantungan bahan baku dari luar daerah. Upaya ini didukung pemanfaatan lahan Sultanaat Grond (SG) di kawasan pesisir selatan Bantul, yang dinilai berpotensi mengembalikan daerah tersebut sebagai lumbung tebu DIY dan nasional.

Direktur PT Madubaru Budi Hidayat menyoroti terkait tantangan pemenuhan gula nasional yang masih bergantung pada impor. "Indonesia adalah pengimpor terbesar dunia untuk raw sugar. Untuk gula konsumsi saja sampai dengan saat ini belum bisa terpenuhi," ujar Budi di sela acara penanaman perdana tebu, Kamis (27/8/2026).

Selain itu, untuk menanggulangi keterbatasan pasokan tebu lokal yang selama ini masih didominasi dari luar daerah, PT Madubaru mencanangkan perluasan areal tanam di DIY agar perputaran ekonomi tidak keluar wilayah.

Baca Juga: DIY Ingin Terus Jaga Kelestarian Pencak Silat

"PT Madubaru ini bahan baku dari dalam hanya 25 persen, dan yang 75 persen mendatangkan dari luar, utamanya dari Sragen yang jadi pusat perebutan seluruh wilayah baik Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogja, dan Jawa Barat" jelasnya.

Ia juga menambahkan komitmen pengembangan lahan serta apresiasinya atas dukungan berbagai pihak, termasuk pemanfaatan tanah SG. Terkait perencanaan, PT Madubaru memiliki target untuk pengembangan ini minimal tahun depan bisa 1.000 hektar.

Direktur Utama PT PG Rajawali I Daniyanto menyampaikan, pentingnya kerjasama ini dalam mendukung pemenuhan kebutuhan gula DIY secara mandiri. "Jadi kita ingin mengembalikan Bantul sebagai lumbung tebunya DIY dan juga nanti lumbung tebu nasional," tutur Daniyanto.

Baca Juga: CJIBF 2026 Buka Peluang Investasi Rp19,07 Triliun Mengalir ke Jateng

Berdasarkan kalkulasi kebutuhan gula konsumsi masyarakat DIY, wilayah ini telah memenuhi kriteria swasembada gula. Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat konsumsi gula per kapita masyarakat DIY berada di angka 5 kilogram per orang per tahun.

Dengan total populasi sekitar 3,7 juta jiwa, jika diakumulasi, kebutuhan gula masyarakat DIY mencapai kurang lebih 20.000 ton per tahun.

Sementara itu, target produksi gula PT Madubaru dapat menyentuh angka 24.000 ton. “Alhamdulillah kalau data BPS kita pakai, sebetulnya DIY sudah swasembada gula. Tinggal nanti kita ekspor. Ekspornya ke provinsi lain,” tambahnya.

Mengenai target perluasan lahan, Daniyanto menyampaikan rencana jangka pendek hingga jangka panjang yang tetap memprioritaskan ketahanan pangan tanpa mengganggu area ketahanan pangan yang lain.

Baca Juga: Jadikan Gombong Kawasan Sejarah dan Wisata, Pangdam Beri Restu Revitalisasi Benteng Van Der Wijck

Sementara itu, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, menyambut baik kolaborasi ini untuk mengembalikannilai historis Bantul yang dulunya merupakan kawasan lumbung gula.

"Bantul ini memiliki jejak sejarah sebagai lumbung gula nasional. Tercatat ada delapan pabrik gula di Kabupaten Bantul," bebernya.

Ia juga menyampaikan adanya potensi lahan Sultan Ground di kawasan pesisir selatan untuk merealisasikan target swasembada pangan nasional tersebut.

"Di sebelah selatan JJLS ini, dari ujung timur sampai ujung barat sana, menurut Dinas Pertanian Kabupaten Bantul itu lebih dari 2.000 hektare dan semuanya SG. Sehingga ini peluang yang bisa kita manfaatkan," ujar Abdul. (cr2)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Lahan SG Lumbung Gula tanaman tebu perluasan areal kabupaten bantul