Serapan Kerja Tembus di Kabupaten Target, Lulusan S1 Terkendala, Industri Dominan Butuh Tamatan SMA

Aris Romadhon • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 21:00 WIB
MOMEN BAHAGIA: Suasana perayaan wisuda mahasiswa ISI Jogjakarta beberapa waktu lalu. Lulusan sarjana di Kabupaten Bantul masih menghadapi kendala karena lapangan kerja yang dominan untuk tamatan SMA/SMK. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
MOMEN BAHAGIA: Suasana perayaan wisuda mahasiswa ISI Jogjakarta beberapa waktu lalu. Lulusan sarjana di Kabupaten Bantul masih menghadapi kendala karena lapangan kerja yang dominan untuk tamatan SMA/SMK. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

BANTUL - Penyerapan tenaga kerja sektor formal di Bantul sudah melampaui target tahunan. Namun, capaian 2.706 tenaga kerja hingga pertengahan 2026 itu masih menyisakan persoalan. Lulusan sarjana (S1) justru menghadapi kendala karena lapangan kerja yang dominan tersedia lebih banyak membutuhkan lulusan SMA/SMK.

Fungsional Pengantar Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Bantul Rahardian Aditya Maulana mengatakan, jumlah tenaga kerja formal yang terserap telah melewati target pemerintah daerah sebanyak 2.700 orang per tahun. “Kami masih terus mendata dan menunggu akumulasi penuh hingga Desember nanti,” ujar Rahardian kepada Radar Jogja Rabu (26/8).

Baca Juga: Aturan Khusus UEFA, Liverpool Tidak Akan Menjamu Real Madrid di Anfield, Bernabeu Terbuka

Menurutnya, kebutuhan tenaga kerja formal di Bantul masih didominasi industri manufaktur, khususnya garmen. Satu perusahaan garmen rata-rata membutuhkan 100 hingga 200 pekerja baru setiap bulan. Selain itu, sektor ritel dan perdagangan serta jasa keuangan turut menjadi penyerap tenaga kerja utama. Hal ini disebabkan banyaknya swalayan dan pertokoan yang tumbuh di Bantul. “Sektor jasa keuangan yang meliputi perbankan, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), hingga lembaga pembiayaan seperti Permodalan Nasional Madani (PNM) (juga mendominasi perekrutan, Red),” rincinya.

Namun, struktur kebutuhan tenaga kerja tersebut belum sepenuhnya sesuai dengan profil pencari kerja. Industri garmen, mebel, hingga ekspor-impor furnitur umumnya membutuhkan lulusan SMA/SMK untuk posisi operasional.

Baca Juga: Isu 14 Bus Massa Aksi Demo ke Jakarta Bertolak dari Kulon Progo, Polisi Pastikan Hoaks dan Belum Ada

Kondisi itu menjadi tantangan bagi pencari kerja lulusan S1. Mereka tidak selalu menemukan lowongan yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan maupun bidang keahlian yang dimiliki.

Untuk memperluas peluang, Disnakertrans Bantul menjalin kerja sama dengan Dinsosnakertrans Kota Jogja dan Disnaker Sleman. Pertukaran informasi lowongan dilakukan karena pasar kerja tidak terbatas pada wilayah administrasi Bantul.

Disnakertrans Bantul, lanjutnya, juga menggencarkan sosialisasi ke SMA/SMK dengan menghadirkan perusahaan secara langsung. Langkah tersebut dilakukan agar calon tenaga kerja memperoleh informasi mengenai kebutuhan dan peluang kerja sejak masih sekolah.

Selain itu, job fair digelar setiap tahun untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara kebutuhan perusahaan dan kualifikasi pencari kerja. (cr2/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
Lulusan sarjana (S1) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Bantul lulusan SMA/SMK tenaga kerja Pencari Kerja