Sistem Pertanian Modern Banyu Kencono; Berbasis IoT dan AI, Semua Terukur dan Transparan

Aris Romadhon • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 19:49 WIB
MANFAATKAN TEKNOLOGI: Monitor berisi dashboard menampilkan semua sensor yang ada di sawah Banyu Kencono, Pleret, Bantul. Aris Romadhon/Radar Jogja
MANFAATKAN TEKNOLOGI: Monitor berisi dashboard menampilkan semua sensor yang ada di sawah Banyu Kencono, Pleret, Bantul. Aris Romadhon/Radar Jogja

 

SISTEM pertanian di Bantul kini semakin modern. Seperti yang dilakukan di Padukuhan Karet, Kapanewon Pleret. Pertama di Bumi Projotamansari, Banyu Kencono melakukan transformasi lahan pertanian konvensional menjadi ekosistem digital berbasis internet of things (IoT) dan artificial intelligence (AI).

Penanggung Jawab Pertanian Wisata Banyu Kencono Soni Susanto mengungkapkan, efisiensi dan akurasi menjadi kunci utama dalam pengelolaan lahan pertanian modern yang dikembangkannya.

"Pertanian modern di Banyu Kencono ini dibangun di atas tiga pilar utama yakni metode pertanian modern, IoT, dan AI," ungkap Soni kepada Radar Jogja, Selasa (25/8).

Baca Juga: Bantul Kukuhkan Mulyodadi sebagai Kampung Siaga Bencana ke-16, Siapkan 60 Relawan Hadapi Banjir

Pilar pertama difokuskan pada penataan lahan secara modern. Lahan pertanian dibuat dalam bentuk bedeng dan ditutupi mulsa, sementara sistem pengairan mengandalkan jaringan pipa sprinkler. Metode ini menyalurkan air secara presisi langsung ke area tanaman sehingga memangkas pemborosan air.

Efisiensi waktu dari penerapan teknologi ini terbilang signifikan. Untuk lahan seluas sekitar 5.000 meter persegi yang biasanya membutuhkan waktu tiga hingga empat jam pengairan manual, kini hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit.

Efisiensi itu makin optimal dengan pilar kedua, yakni integrasi teknologi IoT. Soni menjelaskan berbagai sensor telah dipasang di seluruh area lahan untuk membaca kondisi lingkungan secara real-time. Mulai dari kelembapan tanah, pH tanah, suhu, kelembapan udara, hingga kondisi cuaca.

"Penyiraman tidak lagi sekadar berdasarkan jadwal tetap, tetapi menyesuaikan kondisi tanah. Saat cuaca sangat terik dan tanah cepat kering, penyiraman dapat berlangsung lebih lama, misalnya 45 menit. Sebaliknya ketika mendung dan tanah lembap, penyiraman bisa disingkat menjadi 10 menit saja," jelas Soni.

Pilar ketiga adalah kecerdasan buatan (artificial intelligence). AI bertugas mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis parameter pertanian secara berkala setiap 15 menit. Lebih dari sekadar membaca data, AI berfungsi layaknya asisten pribadi bagi para petani.

Setiap malam, AI menganalisis rekam jejak harian dan mengirimkan notifikasi berisi instruksi kerja untuk keesokan harinya langsung ke gawai petani melalui aplikasi WhatsApp. Tugas-tugas itu telah disusun berdasarkan skala prioritas agar pekerjaan di lapangan lebih terarah dan terukur.

Tidak hanya itu, AI juga mampu mendeteksi potensi masalah atau kerusakan alat secara dini. Soni memberikan gambaran ketika pengairan berlangsung, sensor dapat membaca dinamika kelembapan di tiap bedeng.

"Jika setelah lima menit bedeng pertama sudah mencapai kelembapan 50 persen sedangkan bedeng kedua baru 10 persen, sistem mendeteksi adanya ketidaknormalan. Misalnya selang bermasalah atau sprinkler tersumbat," ujar Soni.

Apabila gangguan terjadi setelah jam kerja, AI akan mencatat kendala itu dan mengirimkan pesan peringatan di malam hari. Petani pun dapat langsung menuju titik lokasi yang bermasalah pada pagi harinya tanpa harus menginspeksi keseluruhan lahan.

Untuk menjamin keberlangsungan operasional sensor dan AI secara nonstop, Banyu Kencono menerapkan sistem energi berlapis (redundant power supply). Panel surya (solar panel) ditempatkan sebagai sumber energi utama. Jika pasokan energi surya berkurang, sistem akan beralih secara otomatis ke listrik PLN dan didukung generator set (genset) saat terjadi pemadaman darurat.

Keunggulan lain yang membedakan Banyu Kencono dengan lahan pertanian pada umumnya adalah pembentukan aset data. Data rekam jejak pertanian yang tersusun secara berkelanjutan dan terukur memiliki nilai ekonomi tersendiri.

Data itu dapat dikomersialkan melalui kerja sama riset dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, instansi pemerintah, maupun perusahaan swasta yang membutuhkan data lapangan nyata.

Puncak dari integrasi teknologi ini adalah kemampuan menghitung nilai ekonomi pertanian secara utuh dan transparan. Saat masa panen tiba, AI tidak hanya menghitung total produksi dan nilai penjualan, tetapi juga merangkum seluruh kalkulasi biaya operasional selama satu siklus tanam.

Baca Juga: Pasar Tani Bantul Jadi Etalase Produk Lokal, Konsisten Angkat Potensi UMKM sejak 2016

Poin-poin biaya yang dihitung mencakup penggunaan dan harga pupuk, konsumsi energi, penyusutan panel surya, penggunaan kWh listrik PLN, pemakaian BBM genset, hingga nilai penyusutan mesin dan perangkat IoT.

"Seluruh data itu menjadi dasar untuk menghitung modal, total biaya produksi, nilai penjualan, keuntungan bersih, hingga tingkat efisiensi satu siklus tanam," jelas Soni.

Melalui pendekatan berbasis data dan teknologi canggih ini, pertanian modern Banyu Kencono tidak hanya berfokus pada hasil panen semata. Melainkan juga menciptakan efisiensi, pengetahuan baru dan transparansi nilai ekonomi bagi masa depan sektor pertanian. (cr2/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Pertanian artificial intelligence internet of things Bantul