BANTUL - Rumah Pocong Sumi di Kotagede, Banguntapan, Bantul menyimpan kisah mistis yang membuat rumah bergaya Belanda itu ditakuti sebagian masyarakat. Namun stigma itu ingin diubah Sabar Riadi dengan berjualan Dawet Bayat di rumah yang juga disebut Omah Indhise tersebut.
Pria paro baya berusia 56 tahun itu mengatakan, sekitar tahun 2018 terdapat salah satu stasiun televisi yang meliput rumah tersebut. Hal itu kemudian membawa dampak munculnya anggapan tempat itu angker. Oleh karena itu, dia ingin mengubah narasi tersebut dan menunjukkan rumah itu aman dengan cara berjualan di sekitarnya.
"Sekaligus membawa narasi, ini rumah sejarah dan budaya. Bukan hanya sekedar rumah mistis," katanya saat ditemui di Rumah Pocong Sumi Kotagede di Gang Soka, Minggu (23/8).
Dia mencoba menetralisir stigma-stigma negatif itu. Sebab, sekitar 1970-an, Gang Soka ramai oleh warga yang berjualan. Beberapa pedagang menjual gudeg, rujak, tahu, jenang, dan berbagai makanan lainnya. "Memang dulu banyak yang ke sini, karena banyak perajin juga. Jadi banyak yang jualan,” tuturnya.
Baca Juga: Jadi Pusat Kuliner, Latar Rejo Diluncurkan; Geliatkan UMKM Lokal di Kelurahan Tegalrejo Jogja
Namun saat ini gang itu berubah sepi, terutama setelah muncul narasi-narasi mengenai Rumah Pocong Sumi. Sebagai pengelola desa wisata setempat, dia pun khawatir dengan kondisi tersebut.
Maka dari itu, setelah pensiun sebagai pembela hak asasi wanita, dia memutuskan untuk menghidupkan kembali gang tersebut sekaligus menghilangkan stigma negatif yang berkembang.
Dia masih ingat betul niat untuk mengubah stigma itu diawali Sabtu (11/7) lalu, saat hari pertama membuka usaha sebagai pedagang Dawet Bayat. Dia bahkan belajar jauh-jauh bersama temannya ke Klaten, karena Dawet Bayat berasal dari Klaten.
"Dua minggu pertama penjualan sangat ramai, kita baru buka sudah banyak yang beli, jadi agak riweh, dua jam sudah habis,” bebernya.
Sebab, banyak konten kreator yang meliputnya, sehingga usahanya banyak dikenal oleh orang-orang. Dia bahkan berpikir untuk menambah stok penjualan karena dagangannya begitu cepat habis.
Namun, niat itu kembali diurungkan karena warga kelahiran Kotagede, Banguntapan, ini ingin mengamati pasar terlebih dahulu. "Satu hari ya 1,5 kilogram pati aren, pokoknya habis nggak habis kita pertanahankan di situ,” tegasnya.
Baca Juga: Mie Pentil Bantul Ikut Viral, Kuliner Kenyal Warisan Lama Kembali Diburu
Akhirnya, stigma mengenai rumah mistis itu pun perlahan mulai reda. Semakin banyak warga maupun wisatawan yang membeli dawetnya dan tidak merasa takut. Terdapat pula bunga bougenvil di rumah bernuansa Belanda itu sebagai ikon yang semakin menarik wisatawan untuk datang.
Pantauan Radar Jogja di lokasi sekitar pukul 11.00 hingga 12.00 menunjukkan pembeli silih berganti mendatangi dagangan milik Sabar. "Kami buka setiap hari, kecuali di hari Jumat, dari pukul 10 pagi sampai tiga sore,” katanya.
Nama dawetnya dinamai Dawet Posmalang, karena di sekitar lokasi terdapat pos jaga yang dulunya menjadi tempat warga berjualan. Selain itu, dia memilih minuman tradisional karena sudah ada minuman modern di gang tersebut.
Dia ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda. “Saya ingin memgembalikan suasana di gang ini kembali menjadi pusat kuliner,” harapnya.
Sabar berharap dengan berjualan di gang itu, semakin banyak warga setempat yang terdorong untuk membuka usaha di sana setiap hari, dengan berbagai jenis kuliner makanan tradisional khas Kotagede.
Sebab, jika semakin banyak kuliner yang berbeda-beda di Gang Soka, kawasan itu akan semakin menarik perhatian pembeli maupun wisatawan yang berkunjung. "Kita manfaatkan dan memaksimalkan Gang Soka ini," ajaknya. (cin/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja