BANTUL – Persoalan sampah yang kerap menjadi beban lingkungan justru berhasil diubah menjadi peluang ekonomi oleh Kalurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Bantul. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pengelolaan sampah dilakukan dari tingkat desa dengan melibatkan warga setempat.
Komitmen tersebut bermula pada 11 November 2019. Kondisi Guwosari yang berada di kawasan permukiman sekaligus pendidikan membuat pemerintah kalurahan menilai persoalan sampah perlu segera ditangani secara mandiri.
Lurah Guwosari Masduki Rahmat mengatakan, pemerintah kalurahan kemudian membuat regulasi mengenai pengelolaan sampah rumah tangga. Pelaksanaannya dipercayakan kepada BUMDes sebagai sektor utama dalam pengelolaan sampah.
"Kami kemudian membuat regulasi pengelolaan sampah rumah tangga, kita turunkan kepada BUMDes sebagai leading sector dalam mengelola sampah," ujar Masduki saat ditemui Radar Jogja, Kamis (20/8/2026).
Baca Juga: Dana Haji 2027 Berpotensi Tekor Rp6,87 Triliun, BPKH Soroti Keberlanjutan Keuangan Jemaah
Sejak 2021, pengelolaan sampah di Guwosari semakin diarahkan agar persoalan sampah dapat diselesaikan dari tingkat desa. Sistem yang diterapkan mencakup proses penjemputan, pemilahan hingga pengolahan.
Program tersebut tidak hanya memberikan dampak terhadap kebersihan lingkungan. TPS Guwosari juga menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat sekitar.
Menurut Masduki, para pekerja berasal dari berbagai latar belakang, termasuk pemuda yang tidak melanjutkan sekolah hingga warga lanjut usia. Bahkan, pekerja tertua di TPS tersebut telah berusia 84 tahun.
"Mereka terdiri dari pemuda putus sekolah, lansia, komplit mas, paling tua umur 84 tahun," katanya.
Sistem pengupahan juga terus mengalami peningkatan sejak pengelolaan dimulai. Jika pada awalnya pekerja memperoleh sekitar Rp50 ribu per hari, kini sebagian pekerja bisa mendapatkan upah hingga Rp80 ribu per hari.
Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya menjadi upaya menjaga lingkungan, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat desa.
Pengembangan TPS Guwosari turut mendapat pendampingan dari Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu sejak 2023.
Supervisor HSSE dan Fleet Safety Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu Basuki Wicaksono mengatakan, pendampingan dilakukan untuk mengembangkan potensi pengelolaan sampah yang sudah berjalan.
"Kami masuk mendampingi sejak 2023 untuk mendukung dan mengembangkan potensi yang ada," ujarnya.
Dukungan tersebut meliputi penyediaan sarana dan prasarana, perbaikan gedung hingga pengembangan teknologi. Salah satunya berupa aplikasi untuk mendukung sistem pengambilan sampah.
Baca Juga: Prediksi Skor Trabzonspor vs Ferencvaros Playoff Europa League Jumat 21 Agustus, Tanpa Pemenang?
TPS Guwosari juga dilengkapi instalasi panel surya atau solar cell. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan energi sekaligus mengurangi konsumsi listrik dari sumber konvensional.
"Terutama untuk peralatan yang memang satu fase untuk pemakaian listriknya bisa dikurangi dengan adanya solar sel ini," jelas Basuki.
Saat ini, operasional TPS Guwosari melibatkan 27 pekerja lokal. Kepala Unit TPS Guwosari Amrul Sukma Hidayat mengatakan, fasilitas tersebut mampu mengolah sekitar 4 hingga 5 ton sampah campuran setiap hari.
Sampah yang masuk tidak langsung dibuang. Petugas terlebih dahulu melakukan pemilahan menjadi empat kelompok, yakni bosok, rosok, popok, dan godong-thok.
"Alur pemilahan dibagikan menjadi empat kategori, yaitu bosok, rosok, popok, dan godong-thok," terang Amrul.
Kategori bosok atau sisa makanan dimanfaatkan sebagai bahan budidaya maggot. Larva tersebut kemudian digunakan sebagai pakan ternak, termasuk ayam KUB dan ayam ras petelur.
TPS Guwosari bahkan memiliki sekitar 600 ekor ayam petelur. Dari jumlah tersebut, produksi telur rata-rata mencapai 20 hingga 30 kilogram per hari.
Sementara itu, rosok atau sampah anorganik bernilai ekonomi dipilah berdasarkan jenisnya. Material tersebut kemudian disetorkan kepada pengepul besar atau dimanfaatkan kembali menjadi berbagai produk, termasuk kerajinan seperti ecotable.
Adapun sampah jenis godong-thok atau material organik berupa daun dan sejenisnya diolah menjadi kompos serta media tanam.
Baca Juga: KPK Sita Aset Rp150 Miliar Kasus Eks Wamen Imipas Silmy Karim, Usut Modus Pencucian Uang
Sedangkan popok mendapat penanganan tersendiri. Sampah tersebut diolah menggunakan mekanisme incinerator maupun dimanfaatkan sebagai bahan untuk menghasilkan produk turunan.
Pengelolaan tersebut menunjukkan bahwa sampah tidak selalu berakhir di tempat pembuangan. Dengan sistem pemilahan dan pengolahan yang tepat, sampah dapat menjadi sumber daya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
TPS Guwosari pun membuktikan bahwa semangat sampah selesai dari desa dapat berjalan beriringan dengan penciptaan lapangan kerja dan pengembangan ekonomi masyarakat.
Editor : Bahana.