BANTUL - Gelombang tinggi mengakibatkan Muara Baros tersumbat pasir dari laut. Akibatnya, lahan pertanian di Kalurahan Tirtohargo, Kretek sebanyak 35 hektare dan Kalurahan Srigading, Sanden sebanyak 20 hektare terendam. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dikhawatirkan menyebabkan gagal panen.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Joko Waluyo mengatakan, pihaknya masih menunggu alat berat. Sementara ini warga membuka sumbatan pasir di Muara Baros secara manual. "Kondisi ini tahunan terjadi karena penyumbatan di Muara Baros,” katanya saat dikonfirmasi Rabu (12/8).
Sementara Lurah Tirtohargo Sugianto mengatakan, lahan pertanian terdampak akibat adanya buntu saluran air di Muara Baros karena gelombang besar dari laut. Kondisi tersebut membuat Muara Baros tidak berfungsi mengalirkan air dari sungai ke laut karena debit air sungai lebih rendah daripada air laut. "Baru kemarin sore buntunya (Muara Baros tersumbat oleh pasir, Red),” katanya saat ditemui di lokasi.
Baca Juga: Suarakan Inklusi! Bendera Merah Putih Membentang 1 Kilometer di Malioboro, Pecahkan Rekor MURI
Terdapat 30 hektare lahan padi dan lima hektare lahan bawang merah yang terendam. Hingga saat ini, pihaknya masih menunggu bantuan satu alat berat dari BBWSSO.
"Alat berar masih di Purworejo Insya Allah nanti sore mau dikirim ke sini," tuturnya.
Namun, menurutnya, meskipun alat berat digunakan untuk membuka sumbatan di Muara Baros, kemungkinan sumbatan kembali terjadi tetap ada. Hal itu bergantung pada kondisi gelombang laut yang besar dan merupakan fenomena alam yang setiap tahun terjadi pada Agustus hingga September.
"Maka dari itu, kami sudah mengusulkan dibuatkan tanggul untuk menanggulangi banjir tersebut," katanya.
Pihaknya berharap pemerintah, baik daerah maupun pusat, dapat merealisasikan pembangunan tanggul pengaman sawah. Dengan demikian, masyarakat tidak dirugikan akibat sumbatan pasir di muara. "Tanggul rencananya di Sungai Winongo kecil kurang lebih 1.300 meter," kata dia.
Ngadio, 70, salah satu petani terdampak mengaku, sebanyak 220 ubin lahan pertanian bawang merah miliknya terendam air laut. Lahan pertaniannya mulai terendam sejak Selasa (11/8) malam. Air terus naik dengan volume yang cukup banyak. "Air laut naik, burung-burung pada datang makan daun-daunnya, makannya saya tunggu biar nggak dimakan," katanya.
Dia mengaku takut mengalami gagal panen karena modal menanam bawang merah cukup tinggi sehingga bisa merugi. Jika dalam waktu tiga hari air belum surut, tanamannya bisa mati dan menyebabkan gagal panen. "Padahal panen 20 hari lagi, harapannya sumbatannya segera diangkat," ujarnya. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita