BANTUL - Sampah tak selalu berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Melalui pelatihan daur ulang sampah dalam rangkaian Bantul Creative Expo (BCE), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul mengajak masyarakat mengubah limbah menjadi produk kerajinan bernilai guna dan bernilai ekonomi.
Kegiatan yang berlangsung di area parkir Stadion Sultan Agung pada 2 hingga 6 Agustus tersebut menjadi wadah edukasi pengelolaan sampah sekaligus mendorong kreativitas masyarakat.
Kepala DLH Bantul Bambang Purwadi Nugroho mengatakan, pelatihan tersebut bertujuan memberikan pemahaman bahwa sampah masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang. "Pelatihan ini sangat penting karena mengajarkan masyarakat untuk mengatasi persoalan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi," jelasnya Selasa (4/8).
Baca Juga: Diplomat Australia Terpikat Potensi Kebumen, Buka Peluang Kerja Sama Sektor Pariwisata-Perdagangan
Menurut Bambang, kegiatan daur ulang dapat mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA. Selain itu, keterampilan mengolah sampah juga dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat maupun pelaku UMKM.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mempelajari pembuatan berbagai produk kerajinan dari bahan bekas. Di antaranya gantungan kunci berbentuk tulip dari kain perca, keranjang dari tali galon, hiasan dinding, bros, hingga keset.
Bahan yang digunakan mayoritas berasal dari sampah anorganik, seperti botol plastik, kemasan multilayer bekas bungkus kopi, mi instan, sabun, serta kain bekas dan kain perca.
Bambang menjelaskan, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mengenalkan konsep pengurangan sampah, tetapi juga mendorong masyarakat menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle dalam kehidupan sehari-hari.
Peserta pelatihan berasal dari berbagai kalangan, mulai masyarakat umum, pelajar, hingga pengunjung Bantul Creative Expo. Melalui kegiatan tersebut, DLH berharap semakin banyak warga yang mampu mengolah sampah menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai jual.
Selain dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi, hasil kerajinan juga berpotensi menjadi sumber tambahan penghasilan.
"Di sisi lain, produk tersebut juga dapat dijual sehingga memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat," ujarnya.
Meski demikian, Bambang menyebut tantangan terbesar pengelolaan sampah masih berada pada perubahan perilaku masyarakat. Kesadaran memilah sampah perlu diikuti dengan kemampuan mengolahnya agar pengelolaan sampah berjalan lebih optimal. Untuk menjaga keberlanjutan program, DLH Bantul akan terus melakukan pembinaan, monitoring, dan evaluasi terhadap kelompok maupun peserta pelatihan. "Kami mengimbau masyarakat mulai menggerakkan kegiatan daur ulang sampah sebagai solusi strategis pengelolaan sampah," pungkasnya. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita