BANTUL - Sebanyak 486 wisatawan tersengat ubur-ubur di kawasan Pantai Parangtritis hingga Pantai Depok sejak 17 Juni hingga 2 Agustus. Meski jumlah kasus cukup tinggi, seluruh korban dapat ditangani di posko terpadu tanpa perlu dirujuk ke rumah sakit.
Koordinator Satgas Linmas Jogo Segoro Pantai Parangtritis-Depok Arief Nugraha mengatakan, pada puncak kemunculan ubur-ubur, jumlah korban dalam sehari sempat mencapai lebih dari seratus orang. "Puncaknya 28 Juni ada 116 wisatawan. Akhir-akhir ini ada yang dua, 15, hingga 30-an dalam sehari," jelasnya Senin (3/8).
Menurut Arief, tingginya jumlah korban pada akhir Juni hingga awal Juli juga dipengaruhi meningkatnya kunjungan wisatawan selama libur sekolah. Semakin banyak wisatawan yang bermain di tepi pantai, semakin besar pula potensi terkena sengatan ubur-ubur.
Baca Juga: 73 Santri dan Pengasuh Pesantren Lolos Beasiswa Pemprov Jateng, 15 Kuliah ke Luar Negeri
Ia menjelaskan, kemunculan ubur-ubur di pesisir selatan merupakan fenomena yang lazim terjadi saat musim kemarau. Oleh karena itu, Arief mengimbau agar wisatawan yang beraktivitas di tepi pantai tetap waspada. Pengunjung diminta tidak mendekati atau memegang ubur-ubur berwarna biru yang memiliki rumbai karena bagian tersebut mengandung sengat.
Namun jika tersengat, wisatawan diminta segera membersihkan area yang terkena menggunakan air cuka atau air biasa. Setelah itu, tubuh diusahakan tetap kering dan tidak dalam kondisi lapar. Agar reaksi tubuh tidak semakin parah.
Baca Juga: Jateng Masih Magnet Investasi, Perusahaan Australia Tanamkan US$350 Juta di Batang
Korban sengatan ubur-ubur umumnya merasakan nyeri dan sensasi panas. Pada orang dengan daya tahan tubuh lemah, sengatan berpotensi menimbulkan sesak napas hingga pingsan. Namun, hingga kini belum ditemukan kasus sengatan ubur-ubur di Pantai Parangtritis yang menyebabkan gejala berat tersebut.
"Tapi Insya Allah aman, tidak terlalu berbahaya, kurang lebih sensasi panas mereda dalam satu jam," katanya.
Arief menambahkan, sengatan ubur-ubur berasal dari bagian rumbai, bukan kepala maupun tubuhnya. Sebagian besar korban merupakan anak-anak karena lebih sering bermain air di bibir pantai, meski orang dewasa dan lanjut usia juga berpotensi mengalami sengatan. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita