JOGJA - Kepergian maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, pada Sabtu (1/8/2026) pagi, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, maupun komunitas seni. Sesama perupa sekaligus tetangga dekatnya Jumaldi Alfi, mengaku masih sulit memercayai kabar tersebut, karena sehari sebelumnya mereka masih berbincang santai di rumah Nasirun.
Alfi mengatakan, bahwa dirinya cukup intens bertemu dengan Nasirun karena memang tinggal dalam satu kompleks perumahan yang sama.
"Saya terakhir ketemu kemarin sore. Masih ngobrol. Dua hari lalu kami juga nonton pameran bareng. Saya dikasih tahu tadi pagi langsung kaget dan enggak nyangka. Baru kemarin kami masih ngobrol. Jadi prosesnya cepat sekali," ujarnya di rumah duka.
Ia menuturkan, saat melintas di depan rumah Nasirun pada Jumat (31/7) sore, Alfi bahkan masih melihat almarhum menjalankan aktivitas seperti biasa.
Baca Juga: FIFA Terus Tinjau Rencana Piala Dunia 64 Tim
"Saya kemarin lewat sini, dia lagi nyapu. Masih berkegiatan seperti biasa," katanya.
Menurut cerita keluarga yang diterimanya, Nasirun memang sempat mengalami sesak napas selama sekitar tiga hari terakhir. Namun, kondisi itu datang dan pergi sehingga tidak terlalu dihiraukan. Terlebih, almarhum dikenal enggan memeriksakan diri ke dokter.
"Menurut keluarga tiga hari terakhir sudah sesak, cuma hilang timbul. Beliau juga orang yang agak takut kalau periksa-periksa ke dokter. Jadi merasa tidak apa-apa," ungkapnya.
Baru sekitar pukul 02.00 WIB dini hari tadi, kondisi sesak napas tersebut memburuk hingga akhirnya Nasirun dibawa ke rumah sakit Asri Medical Center. Namun, sekitar pukul 05.50 WIB, perupa kelahiran Cilacap itu dinyatakan meninggal dunia.
Baca Juga: Sentuhan Hijau dari Luwu, Cara Penyuluh Lokal Mengubah Masa Depan Kakao dan Padi Indonesia
Secara pribadi, Alfi mengaku tidak memiliki firasat apa pun sebelumnya. Ia hanya mengira Nasirun mengalami gangguan pernapasan biasa.
"Saya tidak membayangkan akan sejauh itu. Saya kira sesak biasa. Tidak terpikir akan ada serangan jantung atau hal lain. Ternyata setelah dibawa ke rumah sakit, beliau berpulang," tuturnya.
Bagi Alfi, Nasirun bukan sekadar rekan sesama seniman. Mereka telah saling mengenal sejak era 1990-an, termasuk ketika sama-sama menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja. Selain sebagai kakak tingkat, keduanya juga telah bertetangga selama sekitar 15 tahun.
Selama puluhan tahun mengenal Nasirun, Alfi melihat sosok sahabatnya sebagai pribadi yang telah selesai dengan dirinya. Baginya, Nasirun tidak pernah berubah meski namanya telah dikenal hingga mancanegara.
"Beliau orang yang dipuji tidak besar kepala, dimaki tidak pernah sakit hati. Dalam dunia tasawuf mungkin orang yang sudah selesai dengan dirinya," kenangnya.
Kerendahan hati itu juga tercermin dalam kehidupan berkesenian Nasirun. Dari kesaksian Alfi, almarhum tidak pernah membeda-bedakan pameran, baik yang berskala internasional maupun kegiatan kecil di tingkat kampung.
"Dia sudah pameran internasional di mana-mana, tapi kalau ada pameran RT atau antar gang, dia tetap datang, tetap membuka pameran, tetap ikut. Kadang saya masih punya ego milih-milih, tapi Nasirun tidak begitu. Buat dia, setiap undangan harus dituntaskan," ujarnya.
Lebih lanjut, kepergian Nasirun juga menghentikan sejumlah agenda seni yang telah mereka susun bersama. Sabtu pagi ini sebenarnya dijadwalkan menjadi hari rapat untuk mempersiapkan pameran baru yang rencananya digelar pada November mendatang.
"Jam 9 pagi ini sebenarnya kami sudah janjian rapat di sini untuk persiapan pameran. Kemarin sudah sepakat. Jadi benar-benar tidak menyangka pagi ini justru kabar duka yang datang," tutur Alfi.
Di balik reputasinya sebagai pelukis besar Indonesia, Alfi menyebut Nasirun adalah pribadi yang nyaris tak pernah memperlihatkan kesedihan ataupun mengeluhkan penyakitnya kepada orang lain. Bahkan, keluarga dan sahabat dekat pun baru mengetahui almarhum memiliki riwayat pneumonia dan gangguan lambung setelah kondisinya memburuk.
"Sakit atau senang sama saja kelihatannya. Tidak pernah terbuka soal sakitnya. Saya kenal beliau sejak 1990-an, seumur hidup saya hampir tidak pernah lihat beliau tidak tertawa. Hanya sekali waktu beliau ambeien. Selebihnya, beliau selalu tertawa, selalu membuat orang lain ikut tertawa," kenangnya. (iza)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja