Stunting Juga Ditemukan pada Keluarga Mampu, Pemkab Bantul Soroti Pola Pengasuhan Termasuk Day Care

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 18:43 WIB
Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta. Cintia Yuliani/Radar Jogja
Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta. Cintia Yuliani/Radar Jogja

BANTUL - Kasus stunting di Bantul tidak hanya dialami anak dari keluarga kurang mampu. Pemkab Bantul menemukan sejumlah kasus stunting justru terjadi pada anak dari keluarga mampu yang diduga dipengaruhi pola pengasuhan, termasuk kualitas layanan tempat penitipan anak (day care).

Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta mengatakan, temuan tersebut diperoleh saat pemkab melakukan penelusuran terhadap data stunting. Dari hasil pendalaman, ada anak yang mengalami stunting meski berasal dari keluarga yang kedua orang tuanya bekerja.

"Setelah kami telusuri, ternyata ada beberapa anak yang dititipkan di day care," katanya di Rumah Wakil Bupati Bantul, Jumat (31/7/2026).

Baca Juga: Kanker Bisa Serang Semua Jenis Kelamin, Dinkes Kota Jogja Sasar Ribuan Dosis Imunisasi Anak Perempuan dan Laki-laki

Dia menjelaskan, kasus stunting yang terjadi tersebut dialami karena orang tuanya sama-sama bekerja dan kebanyakan ibunya memilih day care yang lokasinya dekat dengan tempat kerja.

Namun, mereka belum tentu memperhatikan sejauh mana fasilitas maupun kualitas pengasuhan di day care tersebut.

Menurut Aris, kondisi itu menjadi perhatian Pemkab Bantul. Karena itu, pemerintah tengah menyiapkan standar operasional prosedur (SOP) bagi penyelenggaraan day care di wilayah Bantul agar layanan penitipan anak memiliki standar yang jelas.

Baca Juga: Pemkot Jogja Larang Penggunaan Properti Plang Replika Jalan Malioboro untuk Foto Baju Adat

SOP tersebut akan mengatur berbagai aspek, mulai dari kualitas makanan yang diberikan kepada anak, sistem pengasuhan, hingga kewajiban memasang kamera pengawas (CCTV).

Dengan demikian, orang tua dapat memantau secara langsung aktivitas anak selama berada di tempat penitipan.

"Kami berharap orang tua yang menitipkan anaknya bisa ikut memantau, misalnya apakah anaknya mau makan atau tidak selama berada di day care," ujarnya.

Aris menjelaskan, pengasuh yang kurang profesional juga berpotensi memengaruhi asupan gizi anak. Misalnya, ketika anak menolak makan dan hanya ingin minum, tetapi tidak ada upaya yang tepat untuk memastikan kebutuhan gizinya tetap terpenuhi.

Baca Juga: Warga Purworejo Ikut Keciduk KPK, Persekongkolan Anak dan Ayah Minta Rp 2 M untuk Urus Kasus

"Kalau kondisi seperti itu berlangsung beberapa hari, tentu bisa berdampak pada tumbuh kembang anak dan berpotensi menyebabkan stunting," jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul Agus Tri Widiyantara mengatakan, berdasarkan data pemantauan status gizi (PSG) Februari 2026, faktor memengaruhi stunting salah satunya pola pengasuhan campuran atau diasuh oleh orang lain sebesar 35,4 persen. 

"Di asuh oleh nenek, saudara, atau day care," katanya.

Selain itu, penyebab stunting yang menonjol adalah paparan asap rokok dalam keluarga yang masih tinggi, yakni mencapai 61,9 persen. Faktor lainnya adalah kemiskinan sebesar 40,1 persen, serta panjang badan lahir kurang dari 48 sentimeter sebesar 26,9 persen.

Baca Juga: Ekonomi Tumbuh, Gubernur DIY HB X Minta Pemda Waspadai Dampak Gejolak Global, Soroti Ancaman Inflasi hingga Kemiskinan

Hal itu, kata dia, menunjukkan permasalahan stunting di Bantul tidak hanya berkaitan dengan asupan gizi anak, tetapi juga merupakan persoalan multidimensional yang melibatkan faktor lingkungan keluarga, sosial ekonomi, pola pengasuhan, kesehatan ibu, serta kondisi sejak masa kehamilan hingga kelahiran.

"Dengan adanya rembug stunting kemarin diharapkan stunting bisa diturunkan bersama-sama," harapnya. (cin/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Daycare keluarga mampu Pola Pengasuhan kualitas layanan Stunting