Dampak Kemarau, Warga Kalidadap Imogiri Mulai Kesulitan Air Bersih; Pasang Selang Kiloan Meter, Disepakati Ada Jadwal Sedot

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 21:51 WIB
SEDOT YUK: Warga sedang menyedot air menggunakan mulut di Sendang Wonosari dan Padukuhan, Kamis (30/7). Selang panjang itu untuk mengalirkan air menuju rumah masing-masing warga. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
SEDOT YUK: Warga sedang menyedot air menggunakan mulut di Sendang Wonosari dan Padukuhan, Kamis (30/7). Selang panjang itu untuk mengalirkan air menuju rumah masing-masing warga. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)

 

BANTUL - Kemarau panjang mulai dirasakan masyarakat di berbagai daerah. Puluhan warga di Padukuhan Kalidadap 1, Kalurahan Selopamioro, Imogiri kini mengalami kesulitan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mengalirkan air dari sendang menggunakan selang berkilo-kilo meter menuju rumah masing-masing.

Di tengah kemarau, sendang menjadi sumber utama air bagi warga untuk keperluan mandi, mencuci, memasak, hingga minum. Kondisi ini terjadi karena debit air sumur milik warga terus menurun, bahkan sebagian telah mengering selama sekitar satu bulan terakhir.

Ketua RT 2 Padukuhan Kalidadap Sutarto menjelaskan, masyarakat harus bersabar untuk memperoleh air bersih karena harus mengantre mengambil air dari Sendang Padukan. Selain itu, debit air yang keluar dari sendang itu relatif kecil, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar sekaligus.

Baca Juga: Redam Dampak El Nino, BPBD DIY Usulkan Operasi Modifikasi Cuaca saat Status Darurat Kekeringan Ditetapkan

"Bersabarnya gini, waktu mengalirkan dari sumber yang kecil ini harus setiap jam, setiap jadwal, setiap hari, kita harus cari," jelasnya saat ditemui di Sendang Padukan, Kamis (30/7).

Menurutnya, tidak ada sumber air lain yang dapat dimanfaatkan selain jaringan Pamsimas yang berada di wilayah lain. Sekitar 75 kepala keluarga dari RT 1, RT 2, RT 3, RT 6, RT 7, dan RT 8 mengandalkan air dari Sendang Padukan.

Namun tidak seluruh warga di RT tersebut bergantung pada sendang itu karena sebagian telah memperoleh pasokan dari Pamsimas maupun Sendang Wonosari. "Jadi yang di atas Sendang Padukan bisa ambil di sana (Sendang Wonosari, Red)," tuturnya.

Sementara itu, sebagian warga yang tinggal di bawah kawasan Sendang Padukan masih memanfaatkan sumur dangkal sebagai sumber air tambahan. Meski demikian, banyak warga tetap bergantung pada sendang untuk memenuhi kebutuhan harian.

Baca Juga: Awas! DIY Masuk Fase Waspada Kekeringan, Suhu Puncak Kemarau Bisa  Sentuh 37 Derajat Celsius

Agar distribusi air berlangsung adil, warga menerapkan sistem giliran penyedotan sesuai jadwal yang telah disepakati. Air dibiarkan terkumpul terlebih dahulu hingga mencapai debit tertentu, sebelum dialirkan ke rumah-rumah warga. "Mekanisme mengambil (air Sendang Padukan, Red) dari kesepakatan warga dijadwal tiga kali penyedotan," katanya.

Penyedotan di Sendang Padukan dilakukan pada pukul 07.00, 13.00, 17.00 serta kembali pada malam hari sekitar pukul 21.00–22.00. Proses pengambilan air dilakukan tanpa menggunakan pompa. Selang milik warga dipasang dari sendang menuju rumah masing-masing, kemudian saat jadwal tiba warga datang ke lokasi untuk menyedot ujung selang menggunakan mulut hingga air mengalir.

Sutarto menuturkan, kondisi itu telah terjadi hampir setiap musim kemarau. Namun, pada 2026 dampaknya mulai dirasakan sejak sekitar satu bulan lalu. Ia berharap pemerintah dapat memberikan bantuan berupa pembangunan sumur dalam karena sumur dangkal dinilai tidak mampu menyediakan air yang cukup saat musim kemarau. "Kalau dampak musim kemarau tahun 2025 kemarin tidak begitu parah," tuturnya.

Menurutnya, musim kemarau pada 2024 dan 2023 tergolong cukup berat, sedangkan pada tahun ini dampaknya mulai terasa lebih awal. Biasanya kekeringan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September, tetapi kali ini warga sudah mulai bergantung pada Sendang Padukan sejak sebulan terakhir.

Baca Juga: Waspada, Kawasan Bentang Alam Karst Gunungkidul Berpotensi Paling Rawan Kekeringan: Ini Wilayahnya!

Sementara itu, warga RT 4 Padukuhan Kalidadap 1, Seno Wiyoto, 85, mengaku rutin mengambil air di Sendang Wonosari pada pagi, siang, dan sore hari. Air yang diambil pada pagi dan siang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, sedangkan pada sore hari dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian. "Saya kalau sore buat ngairi tembakau sama cabai," katanya.

Warga RT 6 lainnya, Tarni, 36, juga merasakan dampak kekeringan. Ia bahkan mulai menunggu air sejak pukul 03.00 setiap hari. Menurutnya, kondisi kekeringan sudah dirasakan sejak Mei. "Kalau Sendang Wonosari ini, dari rumah saya 500 meter ya. Biasanya satu kali sedot cuma dapat satu bak mandi," katanya.

Tarni memiliki sumur sedalam sembilan meter, tetapi sumur itu sudah lama tidak mengeluarkan air sehingga terpaksa mengambil air dari sendang. Proses menyedot air dengan mulut melalui selang membutuhkan waktu sekitar 30 menit hingga satu jam. "Saya kalau pagi airnya untuk sawah dan siang buat kebutuhan sehari-hari," ungkapnya. (cin/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Padukuhan Kalidadap selopamioro Kemarau Panjang Imogiri