Festival Kitiran Sriharjo Hadirkan 63 Kreasi Unik, Upaya Lestarikan Permainan Tradisional di Tengah Gempuran Gawai

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 20:45 WIB
Festival Kitiran Bulak Truli Sriharjo, Imogiri, Bantul. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
Festival Kitiran Bulak Truli Sriharjo, Imogiri, Bantul. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)

BANTUL - Permainan tradisional kitiran yang mulai jarang dimainkan anak-anak kini kembali mendapat perhatian melalui Festival Kitiran di Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Bantul. Kegiatan ini dikemas secara kreatif untuk melestarikan permainan warisan leluhur sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda.

Lurah Sriharjo Titik Istiyawatun Khasanah mengatakan, sebanyak 63 kitiran dipasang di kawasan Bulak Truli Sriharjo sejak Jumat (24/7) hingga Minggu (26/7). Berbeda dengan kitiran pada umumnya, karya yang ditampilkan memiliki bentuk beragam, mulai dari burung, kincir angin, wayang, pesawat, hingga figur orang sedang memancing.

"Kita juga membedah filosofi kitiran dengan filosofinya urip kudu ubah," kata Titik, Minggu (26/7).

Baca Juga: Salat Subuh ke Masjid, Rumah Warga Ponjong Disatroni Maling: HP hingga Uang Tunai Raib

Menurutnya, kitiran yang terus berputar memiliki pesan moral bahwa manusia harus terus bergerak dalam menjalani kehidupan. Pergerakan tersebut menjadi simbol usaha untuk mencapai kesejahteraan.

Selain menjadi ajang pelestarian budaya, Festival Kitiran juga dimanfaatkan sebagai media promosi potensi wisata Kalurahan Sriharjo. Titik berharap kegiatan ini mampu menarik wisatawan untuk mengenal destinasi wisata maupun menikmati fasilitas seperti homestay yang tersedia.

"Syukur wisatawan bisa menginap di homestay. Ada banyak yang datang dari luar Sriharjo, luar kabupaten, bahkan ada dari luar negeri," ujarnya.

Pembuatan 63 kitiran tersebut melibatkan sekitar 200 warga yang berasal dari 63 RT di Sriharjo. Proses pembuatannya berlangsung selama kurang lebih satu setengah bulan.

Festival Kitiran juga dikemas dalam bentuk perlombaan dengan total hadiah Rp 5 juta untuk lima kelompok terbaik. Selain dipamerkan, sejumlah kitiran turut dijual kepada pengunjung. Beberapa di antaranya telah dibeli oleh masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), hingga kabupaten dan kota lainnya.

Baca Juga: 325 Sapi di Bantul Terpapar PMK, DKPP Genjot Vaksinasi 27.500 Dosis hingga Akhir Tahun

Titik menjelaskan, kegiatan serupa sebenarnya pernah digelar pada 2017 dengan nama Festival Sewu Kitiran. Setelah sempat vakum, kegiatan tersebut kembali digelar pada 2025 dengan nama Festival Kitiran.

"Yang membedakan tahun 2025 dengan 2026 adalah lokasinya. Tahun 2025 di Srikeminut, tahun ini di Bulak Truli Sriharjo," jelasnya.

Pemilihan Bulak Truli sebagai lokasi festival bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut dinilai memiliki potensi wisata yang dapat terus dikembangkan melalui konsep yang dirancang bersama masyarakat setempat.

Titik menyebut keberadaan kitiran saat ini mulai tergerus oleh perkembangan teknologi, terutama karena banyak anak lebih memilih bermain gawai dibandingkan permainan tradisional. Karena itu, festival ini menjadi salah satu upaya menjaga kitiran sebagai bagian dari identitas budaya daerah.

Baca Juga: Demo di Jogja Kecam Pernyataan Presiden Prabowo soal Pelabelan Londo Ireng Kini Berbaju Wartawan, Pengamat, dan LSM

"Harapannya akan ada banyak pengunjung, terutama dari luar kalurahan, yang datang ke Sriharjo untuk menikmati keindahan alam dan berbagai sajian wisata yang ada," katanya.

Sementara itu, Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Bantul Markus Purnomo Adi mengapresiasi pelaksanaan Festival Kitiran. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bentuk pelestarian budaya, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

"Yang pasti, perekonomian di wilayah tersebut bertambah, terutama UMKM-nya. Tentu lebih laris dan lebih dikenal," ujarnya. (cin)

Editor : Sevtia Eka Novarita
kitiran festival kitiran kalurahan sriharjo Bulak Truli Sriharjo permainan tradisional