Syafiq Raif Muzaffar, Siswa Kelas VIII SLB Islam Qothrunnada, Bantul; Keterbatasan Tak Memutuskan Semangat Berkarya di Bidang Luki

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 19:36 WIB
EKSPRESIF: Raif saat melukis yang suasana budaya Jogja, termasuk penampilan penari tunadaksa yang membawakan Tari Mangastuti. (Foto: Dokumentasi SLB Islam Qothrunnada, Cintia Yuliani/Radar Jogja)
EKSPRESIF: Raif saat melukis suasana budaya Jogja, termasuk penampilan penari tunadaksa yang membawakan Tari Mangastuti. (Foto: Dokumentasi SLB Islam Qothrunnada, Cintia Yuliani/Radar Jogja)

BANTUL - Keterbatasan sebagai penyandang disabilitas tunarungu tidak menghalangi Syafiq Raif Muzaffar, 16, untuk terus berkarya. Siswa kelas VIII SLB Islam Qothrunnada, Banguntapan, itu mampu menunjukkan bakatnya melalui goresan warna di atas kanvas hingga meraih juara 1 nasional Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) cabang melukis.

Prestasi ini tidak diraih secara instan. Sebelum akhirnya berdiri sebagai juara pertama tingkat nasional, Raif telah tiga kali mengikuti ajang FLS2N. Dua kesempatan sebelumnya menjadi pengalaman berharga karena ia harus puas meraih juara harapan, hingga akhirnya berhasil mencapai posisi tertinggi.

Guru pendamping Raif, Khasna Nada mengatakan, keberhasilan itu merupakan hasil dari proses panjang. Mulai dari latihan, pendampingan, hingga ketekunan Raif dalam mengembangkan kemampuannya. Terlebih Raif merupakan anak perantauan asal Banjarnegara, Jawa Tengah, yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru di Jogkakarta.

Baca Juga: Hasil Inspeksi Ileague Jelang Super League 2026/2027, Lampu di SSA Bantul Kurang Terang

"Raif ini kan pindah ke sekolah ini sekitar kelas 4 SD," katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (23/7/2026). 

Saat kali pertama bergabung dengan SLB Islam Qothrunnada, Raif sebenarnya sudah memiliki ketertarikan terhadap dunia gambar. Namun, kemampuannya itu masih sebatas kegemaran dan belum diarahkan secara khusus.

"Dia dulu cuma suka gambar karakter kartun seperti Doraemon dan Pokemon di lembaran kertas," ujarnya.

Melihat potensi yang dimiliki Raif, para guru kemudian mulai memberikan pendampingan agar bakat tersebut berkembang. Dari proses pembinaan itu, kemampuan menggambar Raif semakin terasah dan perlahan diarahkan menuju seni lukis.

Karena berasal dari luar daerah, Raif tinggal di Asma SLB Islam Qothrunnada. Di lingkungan itu a mendapatkan pembinaan, termasuk melalui kegiatan ekstrakurikuler melukis yang didampingi oleh guru seni lukis.

"Ia enggak setiap hari melukis. Jadi, ada waktu-waktu tertentu saja," katanya.

Baca Juga: Saingi Parangtritis, Melihat Perbukitan Menoreh dengan Paralayang Giri Sembung Kulon Progo, Harga Tiket Mulai Rp 450 Ribu

Khasna menjelaskan, ketika jadwal belajar berlangsung, Raif tetap fokus mengikuti pembelajaran. Namun saat waktu senggang, seperti istirahat, menunggu waktu salat, atau setelah salat, ia sering memilih menggambar untuk mengisi waktu.

"adi kalau gabut ngambil kertas, rus gambar tipis-tipis. Kalau lagi mood banget, gambarnya bisa bagus sekali," tuturnya.

Perjalanan Raif menuju panggung nasional juga dilakukan secara bertahap. Saat duduk di kelas V SD pada 2024, ia berhasil menembus tingkat nasional FLS2N kategori gambar ekspresi menggunakan media krayon dan meraih Juara Harapan III. Kemudian saat kelas VI, prestasinya meningkat dengan meraih Juara Harapan I pada kategori yang sama.

Namun saat memasuki jenjang SMP, Raif menghadapi tantangan baru. Aturan lomba FLS2N membuat kategori gambar ekspresi hanya diperuntukkan hingga jenjang SD. Karena itu, ketika duduk di kelas VII SMP, Raif harus beralih ke kategori seni lukis dengan media kanvas dan cat akrilik.

Baca Juga: SPPG Karangwuni Kulon Progo Minta Investigasi Kantin SMPN 3 Wates, Klaim MBG Bukan Penyebab Keracunan Siswa

Perubahan media ini menjadi tantangan tersendiri karena sebelumnya Raif lebih banyak menggunakan krayon. "Itu benar-benar kali pertama dia pegang kanvas dan cat akrilik dari nol," katanya.

Sebelumnya hanya fokus di krayon. Namun karena teknik warna dan komposisinya di krayon sudah matang, dia mencoba matangkan di kanvas. 

Meski harus belajar dari awal, kemampuan dasar yang telah dimiliki Raif dalam memahami warna menjadi modal penting. Ia kemudian berhasil meraih juara I tingkat Kabupaten Bantul, dilanjutkan juara I tingkat DIJ, hingga akhirnya melaju ke tingkat nasional.

"Dan kami enggak menyangka, ternyata alhamdulillah bisa dapat juara 1," tuturnya.

Dalam ajang FLS2N tingkat nasional itu, Raif mengangkat tema kebudayaan Jogjakarta melalui karya berjudul "Semarak Pesta Kesenian Rakyat Jogjakarta di Kawasan Alun-Alun Utara."

Karya itu lahir dari proses diskusi dan kolaborasi antara Raif, guru pendamping, serta pelatih. Lukisan tersebut menggambarkan suasana budaya Jogja, termasuk penampilan penari tunadaksa yang membawakan Tari Mangastuti.

Baca Juga: Berikut Daftar Lengkap Skuad Final Timnas Indonesia untuk ASEAN Championship 2026, Ada Kiper PSIM Cahya Supriadi

Pemilihan Tari Mangastuti bukan tanpa alasan. Tarian itu memiliki makna tentang ungkapan rasa syukur, doa, serta harapan akan keberkahan dan kejayaan.

Di balik keberhasilannya sebagai pelukis muda, Raif juga memiliki cita-cita yang ingin diwujudkan. Remaja tunarungu itu ingin menjadi ustaz agar dapat mengajarkan ilmu kepada anak-anak.

Keinginan itu menunjukkan bahwa Raif tidak hanya ingin mengembangkan kemampuan di bidang seni, tetapi juga memiliki kepedulian untuk berbagi ilmu kepada orang lain.

Khasna mengatakan, perkembangan Raif selama berada di asrama tidak hanya terlihat dari kemampuan melukis, tetapi juga dari sisi kemandirian dan pendidikan agama.

Saat pertama kali tinggal di asrama, kemampuan Raif masih terbatas. Namun melalui pendampingan sekolah, perlahan ia mengalami banyak kemajuan.

Baca Juga: Fenomena "Takut Menikah" Ramai di Media Sosial, Mengapa Gen Z Kian Ragu Melangkah ke Pelaminan?

"Awalnya dia masih belum bisa membaca dengan baik, tetapi sekarang sudah bisa membaca Al Quran, membaca surat Al-Fatihah, dan menghafal beberapa ayat," kata Khasna.

Bagi Raif, melukis dan belajar agama menjadi dua hal yang terus ingin dikembangkan. Melalui lukisan, ia menyampaikan ide dan kreativitasnya. Sementara melalui cita-citanya menjadi ustaz, ia ingin memberi manfaat bagi banyak orang.

"Harapannya Raif semakin semangat belajar, terus berkarya, dan bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak lain," ujarnya.

Raif sendiri mengaku senang bisa meraih prestasi di ajang FLS2N. Didampingi Khasna, ia mengungkapkan sempat merasa gugup saat menunggu pengumuman hasil lomba. "Saya senang sekali," katanya menggunakan bahasa isyarat. (cin/laz) 

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
SLB Islam Qothrunnada Syafiq Raif Muzaffar Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional FLS2N melukis