BANTUL - Padukuhan Jasem RT 2, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan, baru pertama kali mengalami kekeringan hingga menyebabkan kekurangan air bersih. Oleh karena itu, bantuan droping air ke wilayah tersebut diperlukan.
Dukuh Jasem Arif Gunawan mengaku, tahun-tahun sebelumnya musim kemarau tidak terlalu parah sehingga tidak diperlukan droping air. Menurutnya, kekeringan tahun ini lebih parah karena musim kemarau dirasakan datang lebih awal.
"Karena kondisi alam yang sangat cepat sekali berubah, untuk musim kemarau ke musim hujan terlalu panjang," katanya saat ditemui di lokasi kekeringan Kamis (23/7).
Sebanyak 20 kepala keluarga (KK) atau 76 jiwa terdampak kekeringan yang telah dirasakan sejak satu bulan terakhir. Sumur-sumur warga mulai dangkal dan sebagian mengering sehingga tidak ada lagi sumber air bersih yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
"Paling dalam sumurnya 15 meter sudah mulai mengering karena posisinya di atas bukit," terangnya.
Sejak sumur mengering, warga mengandalkan beberapa sumber air yang berada di bawah bukit dan area persawahan untuk memenuhi kebutuhan minum, memasak, mandi, serta keperluan lainnya.
"Dari rumah warga (bak penampung, Red) sekitar 200 meter, sumber air yang paling dekat," katanya.
Akibat kekeringan tersebut, Padukuhan Jasem RT 2 telah beberapa kali menerima bantuan droping air dari BPBD Bantul dan salah satu universitas swasta di DIJ. Kamis (23/7) BPBD Bantul kembali menyalurkan bantuan tiga tangki air dengan total volume 15 ribu liter.
"Biasanya 15 ribu liter habis dalam satu minggu, dan kami juga sudah bersurat untuk bantuan air ke PMI dan Dinsos Bantul," kata dia.
Meski kebutuhan air bersih untuk keperluan sehari-hari mengalami kekurangan, sektor pertanian, seperti tanaman tembakau dan sayur-mayur, masih belum terdampak dan hingga kini belum mengalami kekurangan air.
"Harapannya kepada pemerintah, kami bisa dibuatkan sumur bor, untuk mengatasi kekeringan," pintanya.
Warsiyem, 42, warga RT 2, Padukuhan Jasem mengatakan, kesulitan mendapatkan air bersih sejak Juni lalu. Pasalnya, debit air sumur yang dimilikinya perlahan menurun hingga tidak bisa lagi diambil untuk keperluan sehari-hari.
"Di sini ada tiga sumur, satu sumur buat tiga orang, satu lagi buat dua orang, satu lagi buat bareng, tapi ketiganya sekarang kering nggak ada airnya," keluhnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Bantul Mujahid Amrudin mengatakan, berdasarkan data periode 20 Juni hingga 20 Juli, total bantuan droping air yang telah disalurkan mencapai 250 ribu liter atau sebanyak 50 tangki ke sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan.
"11 tangki dari BPBD, 14 tangki PMI, 13 tangki dari Tagana dan 12 tangki dari donari," rincinya.
Baca Juga: Bangun Rumah Semai Bibit Mangrove, AHM Tumbuhkan Harapan Baru bagi Pesisir Karawang
Sebanyak lima kapanewon terdampak kekeringan, yakni Pundong, Piyungan, Pajangan, Imogiri, dan Dlingo. Selain itu, terdapat tujuh kalurahan yang terdampak, yaitu Guwosari, Jatimulyo, Karangtengah, Seloharjo, Srimulyo, Temuwuh, dan Terong, serta sembilan padukuhan.
"Total ada 1.489 jiwa dan 326 KK," terangnya.
Dia berharap air hasil droping dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok, terutama air minum. Sementara itu, penggunaan air untuk kebutuhan lain, seperti mencuci dan mandi, diminta mulai dihemat.
"Kami ingin masyarakat memanfaatkan air untuk kebutuhan pokok, terutama minum," pungkasnya. (cin)
Editor : Bahana.