BANTUL - Seekor penyu lekang ditemukan mati di Pantai Gua Cemara, Bantul Jumat (17/7). Penyebab kematiannya belum dapat dipastikan. Namun, limbah plastik yang mencemari laut menjadi salah satu dugaan dan masih menunggu pembuktian melalui nekropsi.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul Istriyani mengatakan, penyebab penyu terdampar dan mati bermacam-macam. Untuk mengetahui penyebab pastinya, diperlukan nekropsi yang dilakukan oleh dokter hewan.
Apabila kondisi bangkai belum terlalu membusuk, penyebab kematian biasanya masih dapat diidentifikasi. Baik karena penyakit alami maupun akibat penyu memakan plastik yang menyumbat saluran pencernaannya.
"Kebetulan tahun ini DKP DIY ada kerja sama dengan sea life yang bisa nekropsi untuk melihat penyebab matinya," katanya.
Dia menambahkan, kasus yang paling sering terjadi adalah penyu terdampar akibat sakit karena infeksi atau mengalami luka. Kondisinya yang melemah dan membuat penyu terbawa arus hingga ke pantai.
Baca Juga: Terbuka untuk Umum, PSIM Gelar Latihan Perdana Hari Senin
Sementara itu, Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah IV Pantai Samas-Pantai Baru Dwi Rias Pamuji mengatakan, penyu tersebut memiliki panjang 80 centimeter dan lebar 60 centimeter. Dugaan kematiannya disebabkan limbah plastik, menurutnya, masih bersifat praduga.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul Bambang Purwadi Nugroho mengaku, telah memiliki upaya pencegahan jika penyebab kematian penyu memang berkaitan dengan limbah plastik dari sungai yang bermuara ke laut. "Antara lain dengan melakukan program edukasi di hulu," katanya.
Upaya tersebut dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar mengelola sampah dengan baik. Dimulai dari memilah sampah dan tidak membuang sampah ke sungai. DLH Bantul juga melaksanakan program Kali Bersih serta mendorong implementasi Gerakan Indonesia ASRI di wilayah sungai.
Selain itu, pihaknya melakukan pembinaan kepada masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik. "Kita masih menghadapi problem perubahan iklim dan terjadinya pencemaran di udara, tanah, dan air termasuk sungai," ucapnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita