BANTUL - Sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus mendorong regenerasi seniman pedalangan, Festival Dalang Anak digelar sejak Rabu (15/7/2026) hingga Kamis (16/7/2026) di Lapangan Trirenggo. Kegiatan tersebut diikuti oleh 20 peserta yang terbagi dalam dua kategori, yakni 10 dalang anak dan 10 dalang remaja
Kepala Bidang Warisan Budaya Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Bantul Sunu Wicaksono mengatakan, festival ini diselenggarakan untuk mencetak talenta-talenta dalang baru di Bumi Projotamansari.
Selain menjadi ajang unjuk kemampuan, juga diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni pedalangan sebagai salah satu warisan budaya.
Baca Juga: Jamasan Pusaka Wijaya Mukti Milik Pemkot Jogja, Pengingat Kejayaan Harus Diraih dari Kerja Keras
Wayang yang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda menjadi bagian penting dari identitas budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya. Melalui festival ini, disbud berupaya memberikan ruang bagi anak-anak dan remaja untuk mengenal, mempelajari, sekaligus mengembangkan kemampuan mereka dalam seni pedalangan.
"Kategorinya dalang anak berumur tujuh hingga 15 tahun, dalang remaja 16 sampai 20 tahun," katanya saat dihubungi lewat telepon, Kamis (16/7/2026).
Regenerasi dalang menjadi hal yang penting, agar kesenian wayang tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Karena itu, instansi ini berkomitmen menjadikan festival tersebut sebagai agenda berkelanjutan melalui dukungan Dana Keistimewaan (Danais). "Dan ke depan mengupayakan menambah kuota peserta," jelasnya.
Sebab, minat masyarakat Bantul terhadap seni pedalangan masih tergolong tinggi. Hal itu terlihat dari banyaknya pendaftar yang ingin mengikuti festival tahun ini. Namun, disbud belum dapat mengakomodasi seluruh peserta karena kuota yang tersedia masih terbatas.
Sementara itu, Sekretaris Disbud Bantul Sarjiman mengatakan, peserta yang berhasil menunjukkan kemampuan terbaik dalam festival ini nantinya akan mewakili Bantul pada ajang Festival Dalang Anak tingkat DIY.
"Harapannya dapat mencetak talenta baru seni pedalangan, khususnya di Bantul, sebagai penerus warisan budaya tak benda dan seni wayang," harapnya. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita