BANTUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul kembali menggelar tradisi jamasan pusaka Tombak Kiai Agnya Murni di Rumah Dinas Bupati Bantul Rabu (15/7). Ritual budaya yang digelar setiap bulan Sura itu dimaknai sebagai simbol penyucian diri bagi masyarakat maupun para pejabat, sekaligus melestarikan warisan budaya.
Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul Yanatun Yunadiana mengatakan, siraman pusaka bukan sekadar membersihkan tombak dari karat. Prosesi tersebut juga mengandung filosofi membersihkan diri dari berbagai sifat buruk.
Baca Juga: Pieter Huistra Pimpin Latihan Perdana PSS Sleman, Hanif Sjahbandi dan Hiromu Tanaka Sudah Gabung
"Rasa sombong, dengki, merasa paling besar, dan perasaan-perasaan yang jelek itu kita hilangkan dengan makna filosofi dari kegiatan siraman ini," ujarnya Rabu (15/7).
Siraman pusaka merupakan agenda tahunan yang selalu digelar setiap bulan Sura. Pelaksanaannya dilakukan setelah prosesi jamasan pusaka Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan sebelum peringatan Hari Jadi Kabupaten Bantul.
Baca Juga: WALHI Soroti Ekspansi Pariwisata Gunungkidul, Alih Fungsi Ruang Picu Krisis Ekologi
Pusaka lainnya yang turut dijamas adalah lima tombak pusaka pendamping yang tersimpan di Rumah Dinas Bupati Bantul. Selain itu, setiap kapanewon turut membawa tombak pusaka masing-masing untuk mengikuti kirab dan siraman.
Selain prosesi budaya tersebut, Disbud Bantul juga menggelar bazar keris yang diikuti sekitar 14 komunitas keris di Bantul. Melalui bazar itu, masyarakat dan pejabat yang belum memiliki keris dapat memperoleh keris asli dengan harga terjangkau. "Ada keris sepuh maupun keris kamardikan dengan harga ekonomis," katanya.
Dia berharap, tradisi siraman pusaka menjadi sarana pelestarian budaya, tidak hanya menjaga keberadaan benda pusaka, tetapi juga mewariskan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
"Jangan sampai generasi muda melupakan nilai-nilai yang terkandung dalam pusaka," pintanya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita