Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Korban Kedua Dugaan Pelecehan Oknum Dosen Farmasi UMY Ungkap Kronologi: Kejadian Berlangsung sejak 2017

Fahmi Fahriza • Rabu, 15 Juli 2026 | 19:45 WIB
Ilustrasi kekerasan seksual verbal terhadap mahasiswi.
Ilustrasi kekerasan seksual verbal terhadap mahasiswi.

BANTUL – Seorang penyintas lain dengan nama samaran Mawar turut buka suara atas dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum dosen Prodi Farmasi UMY.

Ia mengalami dugaan pelecehan sekitar 2017 hingga 2020 saat oknum masih berstatus asisten dosen sebelum kemudian diangkat menjadi dosen di Prodi Profesi Apoteker UMY.

Perkenalannya dengan oknum tersebut bermula ketika dirinya masih menempuh pendidikan S1 Farmasi dan memasuki tingkat dua menuju tingkat tiga. Saat itu, oknum tersebut kerap menjadi pembimbing kegiatan skill lab dan praktikum.

"Awalnya saya anggap beliau hanya ramah. Kalau berpapasan selalu menyapa dan tersenyum. Komunikasi lewat Whatsapp juga sebatas urusan akademik, jadi saya tidak merasa ada yang aneh," katanya pada Radar Jogja, Rabu (15/7/2026).

Baca Juga: Kepala SMPN 1 Cangkringan Mengaku Sekolahnya Tak Keberatan Dimintai Iuran HUT Kemerdekaan, Begini Tanggapannya..

Namun, seiring semakin seringnya mereka bertemu dalam kegiatan akademik, perlakuan oknum dosen tersebut diduga tidak lagi wajar. Karena mulai melakukan kontak fisik dengan dalih membantu saat praktikum maupun bimbingan.

"Lambat laun saya merasa risih. Saat praktikum beliau beberapa kali pegang tangan saya dengan alasan membantu, duduk sangat dekat ketika membimbing, dan mulai sering menepuk pundak saya," ujarnya.

Saat itu, Mawar sempat mencoba menjaga jarak. Namun, sulit dilakukan karena pembagian pembimbing praktikum telah ditentukan oleh pihak kampus.

Baca Juga: Pieter Huistra Pimpin Latihan Perdana PSS Sleman, Hanif Sjahbandi dan Hiromu Tanaka Sudah Gabung

Memasuki 2019, ketika melanjutkan pendidikan Profesi Apoteker di UMY, oknum dosen itu telah diangkat menjadi dosen. Sejak saat itu komunikasi di luar kepentingan akademik semakin intens.

Salah satunya pernah didatangi tanpa pemberitahuan saat ia menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Jogjakarta.

"Beliau tiba-tiba datang menjenguk saya di rumah sakit tanpa memberi kabar sebelumnya. Saya merasa tidak nyaman, tetapi saat itu saya dan ibu tetap menghormati beliau sebagai dosen," ceritanya.

Pengalaman lain terjadi ketika Mawar mengunggah aktivitas olahraga di media sosial. Oknum dosen itu datang ke lokasi dan beberapa kali menawarkan untuk mengantarnya pulang.

Baca Juga: Simak! Rashdul Kiblat di Jogja Terjadi Sore Hari, Begini Cara Warga Cek Ulang Arah Kiblat Rumah dan Masjid

Dalam kejadian dan situasi yang lain, ia dihubungi saat ia sedang berada di kampung halamannya. Dengan mengajaknya bertemu di sebuah hotel dengan alasan meminta bantuan menyiapkan materi, guna kebutuhan promosi kampus di kota tersebut.

"Saya milih bertemu di lobi dan datang bersama adik sepupu saya. Setelah bertemu, ternyata lebih banyak ngobrol dan foto. Saat foto beliau merangkul pundak saya. Saya merasa tidak nyaman, bahkan adik sepupu saya juga melihat itu sebagai sesuatu yang tidak pantas," tuturnya.

Usai pertemuan tersebut, ia mulai menerima pesan-pesan pribadi yang sangat tidak etis, terlebih tidak lagi berkaitan dengan urusan akademik. Seperti bermimpi tentangnya, hingga menceritakan hal-hal yang bersifat seksual.

Baca Juga: Waspada! Musim Kemarau, Pencemaran Udara di Kota Jogja Diprediksi Meningkat

"Saya merasa sangat dilecehkan karena seorang pengajar menyampaikan hal seperti itu kepada mahasiswinya," tandasnya.

Pun, salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika ia diminta mengikuti bimbingan sekitar pukul 17.00 di ruang dosen.

Karena khawatir terjadi sesuatu, ia meminta seorang temannya menunggu di luar ruangan. Kekhawatirannya, terbukti. Ia mengaku hanya berdua dengan oknum dosen tersebut di ruang rapat.

"Saya hanya bisa gemetar. Saat itu beliau mulai menyentuh pundak, punggung, dan paha saya. Saya tidak bisa berteriak. Saya hanya sempat menghubungi teman saya yang sudah menunggu di luar agar masuk ke ruangan," ungkapnya.

Baca Juga: WALHI Soroti Ekspansi Pariwisata Gunungkidul, Alih Fungsi Ruang Picu Krisis Ekologi

Setelah kejadian-kejadian tersebut, ia mengalami trauma yang cukup memengaruhi kehidupan, baik di konteks akademik maupun kesehariannya.

"Saya jadi takut ikut praktikum atau mata kuliah yang beliau pegang. Saya juga sempat merasa rendah diri setelah semua yang terjadi," terangnya.

Bahkan, ia sempat melaporkan pengalaman tersebut kepada salah seorang dosen karena ingin mendapatkan perlindungan sebagai mahasiswa.

Namun, respons yang diterima justru membuatnya semakin terpukul sehingga memilih diam dan fokus menyelesaikan kuliah.

Baca Juga: Satpol PP Bakal Rutinkan Operasi Yustisi Pelanggaran KTR di Malioboro, Sasaran Utama Pelaku Ekonomi Lokal

Belakangan ini, baru setelah banyak penyintas lain mulai berbicara di media sosial, Mawar memutuskan ikut menyampaikan pengalamannya.

"Kasus ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan saya yakin korbannya bukan hanya satu atau dua orang. Saya merasa perlu bersuara agar tidak ada lagi korban berikutnya. Saya juga ingin memberi keberanian kepada perempuan lain untuk berani membela dirinya sendiri," ucapnya.

Dia berharap proses penanganan yang kini dilakukan kampus dapat berjalan secara transparan dan memberikan keadilan bagi seluruh korban.

"Jika memang terbukti bersalah, pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya agar ada efek jera dan tidak ada lagi korban berikutnya," tambahnya. (iza/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Dosen farmasi UMY Prodi Farmasi kronologi Dugaan Pelecehan Seksual akademik