Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul Istriyani. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
BANTUL - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul menyebut musim kemarau yang mulai berlangsung pada Juli 2026 belum menimbulkan dampak signifikan terhadap sektor perikanan, termasuk kegiatan budi daya ikan.
Kepala DKP Kabupaten Bantul Istriyani mengatakan, hingga saat ini belum ada keluhan berarti dari para pelaku perikanan terkait ketersediaan air selama musim kemarau. "Kendala yang sempat muncul lebih disebabkan fluktuasi suhu," katanya Senin (13/6).
Fluktuasi suhu tersebut, lanjutnya, berdampak pada kegiatan pembenihan ikan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi daya tetas telur dan daya hidup benih, bukan karena kekurangan air.
Guna mengatasi kondisi tersebut, pelaku pembenihan memanfaatkan teknologi indoor. Pada saat suhu terlalu dingin, ruang pembenihan dilengkapi lampu sebagai penghangat agar proses penetasan tetap optimal.
"Biasanya dimasukkan ke ruang tertutup, kemudian saat dingin diberi lampu untuk menghangatkan," katanya.
Di Bantul sendiri terdapat sekitar 40 Unit Pembenihan Rakyat (UPR). Sebagian besar memproduksi benih lele. Sementara pembenihan ikan bersisik seperti nila dan tawes dilakukan di Balai Pembenihan Ikan (BPI) milik UPTD. Selain itu, terdapat pula kelompok yang membudidayakan gurami.
Istriyani menilai usaha pembenihan memiliki prospek yang sangat baik dalam siklus bisnis perikanan. Selain potensi keuntungan yang besar, biaya operasionalnya relatif rendah sehingga tingkat risikonya juga tidak terlalu tinggi.
"Kalau bicara potensi keuntungan dalam siklus bisnis perikanan, pembenihan itu sebenarnya cukup besar. Risikonya juga tidak terlalu tinggi karena biaya operasionalnya masih kecil," ungkapnya.
Benih ikan dari Bantul tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat lokal, tetapi juga dipasarkan ke berbagai daerah hingga luar pulau. Salah satu tujuan pengiriman benih lele adalah Kalimantan melalui jalur udara.
"Benih lele dari Bantul sampai dikirim ke Kalimantan lewat bandara. Dulu memang yang keluar pulau cukup banyak dari Bantul," kata Istriyani.
Ia menambahkan, kualitas benih ikan dari Bantul menjadi salah satu alasan tingginya permintaan. Menurutnya, kondisi suhu di Bantul membuat daya hidup benih relatif tinggi sehingga diminati pembeli dari berbagai daerah.
Sementara terkait harga benih ikan, Istriyani menyebut masih tergolong standar. Harga menyesuaikan ukuran benih yang dipasarkan. Menurutnya, harga pasar berbeda dengan harga pemerintah. Namun secara umum masih relatif terjangkau. (cin)