BANTUL - Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 sukses menjadi magnet wisata sekaligus ruang pertemuan komunitas layang-layang dunia. Digelar di Pantai Parangkusumo, festival ini mempertemukan peserta dari 17 negara dan 32 klub layang-layang nasional, sekaligus menghadirkan pengalaman berkesan bagi para peserta.
Salah satu peserta asal Haiti Watson Michel mengaku terkesan dengan pengalaman pertamanya mengikuti festival layang-layang di DIY. Menurutnya, keramahan masyarakat dan suasana JIKF menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. "Yang paling berkesan ketika berinterkasi dengan anak-anak, saya memberi mereka layang-layang kecil, mereka sangat senang," ungkapnya Minggu (12/7).
Baca Juga: Harga Kelapa Tak Menarik, Olahan Kopra Jadi Penyelamat Petani dan Pengepul
Menurutnya, anak-anak tersebut sangat antusias dan bahagia saat mendapatkan pemberiannya. "Saya memiliki banyak video yang bagus untuk ditunjukkan kepada teman-teman dan keluarga," tuturnya.
Beberapa hari sebelumnya, dia juga memiliki kesempatan berkunjung ke beberapa tempat di DIY. Kesan pertama yang dia dapat adalah banyak warga Jogja yang ramah. "Orang-orang di sini sangat hangat dan sangat ramah, saya merasa seperti di rumah," kata dia.
Baca Juga: UMY Nonaktifkan Sementara Dosen Farmasi yang Diduga Lakukan Pelecehan
Dia mengaku ingin kembali lagi ke Indonesia. Setelah mengikuti acara ini, dia bahkan berencana melanjutkan perjalanan ke Bali untuk mengikuti festival layang-layang lainnya. "Jogja, istimewa. Saya menantikan kunjungan berikutnya ke Indonesia dan di Bantul," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Panitia JIKF Anang Sarjiyanto mengatakan, negara yang turut andil dalam event ini di antaranya Amerika, Haiti, Brazil, Lithuania, Slovakia, Perancis, India, Malaysia, Singapura, Vietnam, Korea Selatan, dan Jerman. Masing-masing negara bisa memperkenalkan budaya serta mempererat hubungan antarkomunitas internasional.
Dalam kesempatan ini, total ada 160 layang-layang diterbangkan dengan berbagai ukuruan. Dia berharap, JIKF tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi ruang bertemunya para pehobi layang-layang untuk saling bertukar pengalaman dan budaya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita