“Dengan begitu, dapat meningkatkan budaya baca, pengembangan potensi dan kreativitas masyarakat berbasis potensi lokal,” ucap Sekretaris DPAD DIY Muhammad Rosyid Budiman di Hotel Grand Rohan Jogja Rabu (8/7). Bimtek berlangsung selama dua hari hingga Kamis (9/7). Diikuti peserta dari 16 kalurahan se-DIY.
Baca Juga: Polemik Artjog 2026, Begini Peran Didit Putra Presiden Prabowo di Balik Dukungan Sponsor
Rosyid mengatakan, bimtek merupakan bagian dari program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang menjadi program prioritas Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Program tersebut telah berjalan di DIY sejak 2022 lalu. Kini, terus dikembangkan. "Kami ingin perpustakaan tidak hanya untuk membaca saja. Tapi bisa sebagai tempat sosialisasi, belajar, beraktivitas, dan berkreativitas," jelasnya.
Karena itu, pengelola perpustakaan kalurahan didorong menyusun berbagai program yang menarik perhatian masyarakat agar datang ke perpustakaan. Berbagai kegiatan digelar. Mulai dari bimtek, bedah buku, membaca bersama, hingga mendongeng untuk anak-anak dalam rangka menumbuhkan minat baca sejak dini.
Program serupa juga menyasar kelompok ibu-ibu dan bapak-bapak agar budaya membaca dapat memberikan manfaat bagi kehidupan sehari-hari, termasuk meningkatkan wawasan ekonomi. Rosyid mencontohkan, masyarakat yang gemar membaca akan lebih mudah memperoleh inspirasi untuk membuka usaha. Atau mengembangkan potensi ekonomi keluarga.
Selain itu, perpustakaan juga bisa difungsikan sebagai pusat pelatihan keterampilan melalui kegiatan merajut, membatik, membuat ecoprint, dan beragam pelatihan kreativitas lainnya. Dari kegiatan itu, masyarakat tak hanya memperoleh informasi. Namun juga mampu menghasilkan karya bernilai ekonomi.
“Perpustakaan dapat menjadi sarana pemberdayaan masyarakat. Mendukung upaya pengentasan kemiskinan. Harapannya perpustakaan benar-benar menjadi tempat masyarakat belajar," katanya.
DPAD DIY sengaja memfokuskan intervensi pada perpustakaan kalurahan karena kalurahan merupakan lembaga pemerintah terdekat dengan masyarakat. Meski ada taman bacaan masyarakat (TBM), penguatan perpustakaan kalurahan dinilai lebih efektif karena berada dalam struktur pemerintahan kalurahan.
Baca Juga: FBI Selidiki Asosiasi Sepak Bola Argentina Terkait Aktivitas Keuangan Federasi
Seluruh kalurahan se-DIY telah memiliki perpustakaan sejak program pengembangan perpustakaan kalurahan dijalankan Perpusnas pada 2019-2020 silam. Saat ini, fokus pemerintah daerah bukan lagi membentuk perpustakaan baru. Tapi mengembangkan kualitas layanan berikut programnya. Salah satunya, dengan bimtek yang bertujuan mengubah pola pikir para pengelola perpustakaan agar lebih inovatif menyusun program berbasis kebutuhan masyarakat.
Sejauh ini, DPAD DIY telah bermitra dengan 200 perpustakaan kalurahan. Hampir 50 persen dari total perpustakaan kalurahan se-DIY. Kemitraan dibangun melalui Sistem Informasi Monitoring Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (SIM TPBS). Berbagai kegiatan perpustakaan kalurahan diunggah ke dalam sistem tersebut sehingga dapat dipantau perkembangannya.
Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan Umum dan Khusus (PPUK) Perpusnas RI Nani Suryani hadir sebagai pemateri. Dia mengungkapkan, kemampuan memahami bacaan, khususnya anak-anak masih perlu ditingkatkan lewat berbagai pendekatan dan inovasi program. Bimtek SPP-TIK menjadi salah satu upaya memperkuat literasi masyarakat. “Terutama di kalangan anak-anak,” kata Nani.
Dia menilai, gerakan pengembangan literasi di DIY telah berjalan secara masif. Mulai tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga kalurahan. Itu menjadi role model atau praktik-praktik baik untuk daerah-daerah lain. (cin/kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita