BANTUL - Tradisi nguras enceh (gentong) kembali digelar di Makam Raja-Raja Imogiri, Bantul Selasa (7/7). Prosesi tahunan yang diwariskan sejak masa Sultan Agung ini tak hanya menjadi ritual pelestarian budaya. Tetapi juga menarik ribuan masyarakat yang meyakini air dari enceh memiliki keberkahan.
Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Muhammad Ilham menjelaskan, air yang berada di dalam enceh dipandang sebagai air yang membawa berkah. Karena itu seluruh rangkaian prosesi tetap dipertahankan sebagaimana tradisi yang diwariskan para leluhur.
Baca Juga: Untuk Bisa Gabung Kelompok, Pelajar SMP di Kebumen Dipaksa Minum Air Rebusan Kecubung
Nguras enceh, lanjutnya, memiliki makna simbolis sebagai pengingat agar manusia selalu introspeksi diri dan menyucikan hati. Filosofi itu diwujudkan melalui prosesi pengurasan dan pengisian kembali air ke dalam enceh.
Sebelum pengisian dilakukan, terlebih dahulu digelar doa bersama dan tahlil. Doa dipanjatkan untuk para leluhur yang dimakamkan di kompleks Imogiri, terutama Sultan Agung sebagai tokoh yang mewariskan tradisi tersebut. "Harapannya air yang nanti diisi kembali menjadi lebih berkah," katanya Selasa (7/7).
Rangkaian doa juga disertai selamatan dengan berbagai sajian yang dalam tradisi Jawa kerap disebut sajen. Namun, Ilham menegaskan seluruh sajian tersebut pada akhirnya merupakan sedekah yang dibagikan.
Baca Juga: Melodi Senja di Puncak Sosok saat Lagu "About You" Mengubah Bukit Bantul Menjadi Sinematik
Proses pengurasan sebenarnya telah dimulai sejak malam sebelum prosesi utama. Namun, air tidak dibuang begitu saja. Air yang selama satu tahun berada di dalam enceh diambil sedikit demi sedikit oleh para peziarah yang datang untuk ngalap (mengambil) berkah. "Karena banyak yang meminta air itu, akhirnya habis dengan sendirinya. Itulah yang disebut proses pengurasan," jelasnya.
Setelah air habis, para abdi dalem membersihkan keempat enceh. Usai doa bersama selesai dilaksanakan, barulah prosesi pengisian kembali dimulai.
Pengisian diawali menggunakan air zamzam dan air dari pertapaan bengkung masing-masing satu jeriken. Hal ini berlaku untuk setiap enceh. Setelah itu, ditambah dengan air yang sudah ditampung di ting besar di bawah lokasi enceh hingga penuh.
Baca Juga: Lima Tahap Pembangunan Rampung, Gedung Baru SMPN 1 Wates Siap Ditempati Tahun Ajaran 2026/2027
Dalam prosesi ini, pengisian tidak hanya dilakukan para abdi dalem. Pengunjung juga diberi kesempatan ikut menuangkan air.
Dia berharap, masyarakat khususnya generasi muda tetap menjaga dan melestarikan budaya Jawa. Sebab, nilai-nilai yang terkandung di dalam tradisi ini diyakini mampu membentuk akhlak, sikap hidup, serta menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.
"Budaya Jawa jangan sampai terlupakan. Dengan menjaga adat dan budaya Jawa, insya Allah nilai-nilai kehidupan akan tetap terpelihara," harapnya.
Sementara itu, warga Selopamioro, Imogiri, Susi, 30, mengaku, sudah dua kali mengikuti tradisi ini. Selain untuk melestarikan tradisi, dia tertarik mengambil air dari enceh karena dipercaya membawa berkah. "Saya bawa dua botol, sekitar dua liter, keinginannya biar lebih sehat ke depannya," harapnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita