BANTUL - Desa Wisata Krebet di Bantul terus memperkuat penerapan konsep pariwisata berkelanjutan setelah meraih predikat desa wisata berkelanjutan pada 2025. Berbagai upaya ramah lingkungan diterapkan sebagai bagian dari pengelolaan destinasi sekaligus menjadi contoh bagi desa wisata lain.
Ketua Desa Wisata Krebet Agus Jati Kumara mengatakan, desa wisata yang dipimpinannya telah memiliki predikat desa wisata berkelanjutan sejak 2025 yang diperoleh dari Lembaga Sertifikasi Produk Indonesia Sustainable Tourism Council (LS Pr-ISTC). "Kita berupaya terus berkelanjutan di setiap kegiatan yang ada di desa wisata ini," jelasnya Minggu (28/6).
Baca Juga: Libur Sekolah Dongkrak Kunjungan ke Ketep Pass Magelang, Pengunjung Tembus 2.000 Per Hari
Penerapan desa wisata berkelanjutan pun telah diterapkan setiap saat tanpa terkecuali. Contohnya tidak menggunakan plastik, serta mengurangi penggunaan tisu dan lebih memilih menggunakan kain lap.
Desa Wisata Krebet juga menyalurkan pengalaman dalam mengelola desa wisata yang berkelanjutan kepada masyarakat dengan mengundang berbagai akademisi sebagai pemateri. Dengan harapan, desa wisata lainnya terinspirasi untuk mulai mengaplikasikan desa wisata berkelanjutan di tempatnya masing-masing.
Ketua Program Studi Magister Pariwisata STIPRAM Amin Kiswantoro mengatakan, pengembangan desa wisata yang berkelanjutan bisa dimulai dari hal kecil. Contohnya dengan tidak menngunakan botol plastik untuk mengurangi sampah plastik. "Penggunaan tisu juga bisa dikurangi, karena tisu berasal dari pohon yang ditebang untuk memproduksinya," sarannya.
Baca Juga: Musim Liburan, Waspada Gelombang Tinggi dan SuhuCuaca Panas: Begini Penjelesan BMKG Yogyakarta
Sementara itu, Dosen Program Studi Magister Pariwisata STIPRAM Nur Widiyanto menyebut, terdapat tiga pilar pariwisata berkelanjutan. Yakni lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi. "Ketiganya bertujuan menciptakan keseimbangan antara kebutuhan pariwisata, kelangsungan alam, dan kesejahteraan masyarakat lokal," jelasnya.
Ketiga pilar pariwisata berkelanjutan, lanjutnya, tidak boleh diprioritaskan hanya pada satu pilar saja. Melainkan harus berhubungan satu sama lain. Apabila hanya memprioritaskan pada satu pilar saja, maka desa wisata tidak bisa dikatakan sebagai desa wisata berkelanjutan.
Baca Juga: Layang-Layang Naga Raksasa hingga Tokoh Pahlawan Warnai Langit Kebonagung
Dalam menerapkan desa wisata yang berkelanjutan, juga harus mempertimbangkan kapasitasnya dalam menerima jumlah maksimal kunjungan wisata. Bukan memaksakan menerima seluruh permintaan kunjungan dalam jumlah yang banyak, yang dapat menimbulkan masalah lingkungan.
"Jadi memperhatikan carrying capacity desa wisata, agar tidak terjadi over tourism yang bisa menimbulkan masalah lingkungan, sosial, dan budaya," tandasnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita