BANTUL - Langit Lapangan Kebonagung, Imogiri, Bantul dipenuhi beragam layang-layang raksasa dalam gelaran Festival Olahraga Daerah (Forda) II DIY 2026 Minggu (28/6). Sejak pagi hingga sore, berbagai bentuk layang-layang mulai dari dua dimensi, tiga dimensi, hingga train naga menarik perhatian warga yang datang menyaksikan.
Pantaun Radar Jogja, layangan raksasa mulai diterbangkan satu per satu mulai pukul 10.00. Layang-layang dengan tokoh pahlawan, gamelan, ubur-ubur, hingga wayang naik silih berganti. Masyarakat pun semakin antusias saat naga sepanjang 80 meter berhasil mengudara. Terpaan angin membuat tubuh naga semakin meliuk-liuk.
Ketua Forda II DIY 2026 Markus Purnomo Adi mengatakan, ada 24 layang-layang yang diterbangkan dalam gelaran ini. Seluruhnya berasal dari Kota Jogja, Kabupaten Bantul, Sleman, dan Kulon Progo.
Baca Juga: Rayakan Ultah Sewindu, BM Kulon Progo Komitmen Hapus Stigma Anarkistis
Dia berharap, festival ini dapat melestarikan budaya Indonesia. Sebab layang-layang sudah menjadi sarana mempererat silaturahmi sekaligus simbol perayaan setelah panen raya sejak zaman dahulu.
"Kalau di Bali dan NTB menjadi sarana untuk berkomunikasi dengan Tuhannya," katanya saat ditemui di Lapangan Kebonagung Minggu (28/6).
Selain itu, layang-layang dipilih sebagai cabang olahraga rekreasi karena mampu menyatukan berbagai kalangan tanpa mengenal batas wilayah. Dalam proses pembuatannya, kata dia, sebuah layang-layang sering kali dikerjakan secara gotong royong oleh anggota komunitas dari berbagai daerah.
Sementara peserta lomba Eko Purwanto Eko mengaku, layangan berbentuk Pangeran Diponegoro dibuat selama tiga bulan bersama rekan-rekannya. Layangan tersebut memiliki panjang tujuh meter dan lebar empat meter ini harus diterbangkan oleh tiga orang. “Habis jutaan buat layang-layang itu," kata anggota Perkumpulan Pelayang Seluruh Indonesia (Pelangi) Bantul ini.
Selama proses pembuatan, ia tak lepas menghadapi sejumlah kendala. Terutama saat memadukan berbagai warna yang harus dijahit secara manual.
Eko mengaku, tidak hanya mengikuti lomba di Bantul, tetapi juga di berbagai daerah. Seperti Cilacap, Purworejo, Surabaya, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB). Dia berharap, hobinya ini dapat menjadi salah satu bentuk kontribusinya dalam melestarikan permainan tradisional. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita