BANTUL - Pembangunan Groundsill Srandakan di Sungai Progo telah mencapai 77 persen dan ditargetkan tersambung penuh pada Agustus. Proyek senilai Rp 231 miliar yang dikerjakan sejak Oktober 2025 ini diharapkan mampu mengendalikan gerusan sungai sekaligus melindungi infrastruktur penting di kawasan hilir Sungai Progo.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sungai dan Pantai II Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) Dicky Maulana mengatakan, pembangunan Groundsill Srandakan bertujuan mengendalikan penurunan dasar sungai dan kecepatan aliran yang berpotensi menyebabkan gerusan pada tebing sungai. Selain itu, bangunan ini juga berfungsi melindungi bangunan yang berada di hulu Bendung Sapon serta Jembatan Srandakan yang memiliki peran penting dalam program swasembada pangan.
"Targetnya Agustus sudah bisa tersambung total (Groundsill, Red) jadi nanti di bulan-bulan berikutnya kami menyelesaikan unit bangunan pelengkap," katanya saat meninjau Groundsill Srandakan Kamis (16/6).
Proyek yang ditarget selesai akhir tahun ini sebelumnya terkendala selama musim hujan. Sebab Sungai Progo berada di bagian hilir, membuat aliran air semakin besar. "Tapi Alhamdulillah kendalanya masih bisa kita atasi," ucapnya.
Menurutnya, pembangunan groundsill sepanjang 300 meter ini penting. Mengingat awal 2025, badan groundsill sisi kiri dan apron runtuh. “Sepanjang kurang lebih 150 meter,” tuturnya.
Baca Juga: Venezuela Diguncang Gempa Kembar Berkekuatan Besar 7,1 dan 7,5, Sebanyak 32 Orang Dilaporkan Tewas
Sementara itu, Anggota Komisi C DPRD DIY Aslam Ridlo mengatakan, pembangunan groundsill baru memiliki spesifikasi yang lebih baik dibandingkan bangunan sebelumnya. Salah satunya adalah adanya tiang pancang sedalam 12 meter di bawah pondasi yang diharapkan dapat memperkuat konstruksi. "Nilai kontruksinya akan relatif lebih punya ketahanan dari yang lama," katanya saat peninjauan groundsill.
Anggota Komisi C DPRD DIY Lilik Saiful Ahmad meminta, agar masyarakat ikut menjaga groundsill. Sebab selain untuk menopang fondasi jembatan, keberadaan groundsill juga bedampak pada ketersediaan air bagi wilayah sekitar. Termasuk untuk kebutuhan irigasi pertanian.
Dia menyebut, di masa lalu wilayah Galur dan Srandakan pernah mengalami kekeringan karena groundsill runtuh. "Ini kita menjaga jangan sampai anggaran yang sudah disiapkan untuk membangun mubazir kalau kita tidak menjaga," pesannya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita