"Bagi kita peristiwa ini harus menjadi peristiwa yang terakhir," katanya saat ditemui di Aula Kompleks Pemda II Manding Senin (22/6).
Lanjutnya, jangan sampai ada kasus bullying maupun tindakan kekerasan di sekolah, baik kekerasan verbal, fisik, maupun seksual. Menurutnya, hal ini dapat membahayakan korban, komunitas sekolah, dan masyarakat.
"Jangan sampai ada trauma yang tertinggal dipribadi-pribadi korban," tuturnya.
Pihaknya telah melakukan pendalaman terkait kasus tersebut. Nantinya, ia memastikan akan ada rekomendasi yang diperlukan untuk menangani kasus ini.
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Bantul serta Balai Pendidikan Menengah Bantul juga telah melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Baca Juga: Mengatasi Isi Kepala yang Ruwet: Belajar 4 Cara Berpikir Matematikawan David Sumpter Ia menegaskan, sekolah harus menjadi lingkungan yang ramah bagi siswa maupun guru.
"Semuanya komite (sekolah, Red) semuanya harus mendukung sekolah ramah anak," katanya.
Sementara itu, Guru Bimbingan Konseling (BK) SMAN 2 Bantul Husna Nisrina mengatakan, pihaknya akan mengikuti proses penanganan kasus yang saat ini ditangani oleh DP3APPKB Bantul. Pasalnya, DP3APPKB Bantul memiliki standar operasional prosedur (SOP) dan alur yang jelas dalam menangani kasus yang terjadi di sekolahnya.
"Kami mengikuti proses DP3APPKB karena memang sudah dilaporkan dan sekarang pihak berwenang melakukan prosesnya, jadi kami mengikuti kooperatif," jelasnya. (cin)
Editor : Bahana.