Hasil Tangkapan Ikan Sapu-Sapu di Rawa Kalibayem Berpotensi Jadi Sumber Protein, Perlu Kajian Komprehensif sebelum Aman Dikonsumsi
Kusno S Utomo• Senin, 22 Juni 2026 | 06:00 WIB
Grebek ikan sapu-sapu di Rawa Kalibayem, Ngestiharjo, Kasihan, Kamis (7/5/2026). DOK. PEMKAB BANTUL
BANTUL - Upaya pengendalian populasi ikan invasif yang mengganggu keseimbangan ekosistem perairan terus dilakukan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. Bentuknya seperti saat "Grebeg Ikan Sapu-Sapu" di Rawa Kalibayem, Kasihan, Bantul, pada 7 Mei 2026. Hasilnya ditangkap sebanyak 135 Kg ikan sapu-sapu.Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY R. Hery Sulistio Hermawan mengatakan, Grebeg Ikan Sapu-Sapu tak hanya bertujuan menekan populasi ikan invasif yang mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. Tapi juga membuka peluang pemanfaatan hasil tangkapan secara bertanggung jawab berdasarkan kajian ilmiah.Hery ingin setiap langkah pengelolaan sumber daya perairan didasarkan data ilmiah. Hasil tangkapan ikan sapu-sapu tidak langsung diasumsikan aman atau tidak amandikonsumsi masyarakat. Namun harus melalui pengujian laboratorium yang komprehensif. “Hasil kajian ini menjadi dasar dalam menentukan kebijakan pemanfaatannya di masa mendatang,” ujarnya Minggu (21/6).
Sebagai tindak lanjut, instansinya telah menguji sampel ikan hasil tangkapan bekerja sama dengan Fakultas Biologi UGM dan Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP) Yogyakarta. Hasil pengujian menunjukkan ikan sapu-sapu memiliki potensi sebagai sumber protein hewani. Tapi aspek keamanan konsumsi masih memerlukan kajian lebih lanjut sebelum dapat direkomendasikan sebagai bahan pangan secara luas.Pengujian dilakukan guna mengetahui kandungan gizi, cemaran logam berat, dan kondisi mikrobiologi daging ikan sapu-sapu. Dari analisis proksimat Fakultas Biologi UGM, daging ikan sapu-sapu mengandung protein sebesar 18,88 persen dan lemak hanya 0,46 persen. Komposisi itu menunjukkan ikan sapu-sapu berpotensi menjadi sumber protein hewani dengan kandungan lemak yang sangat rendah.Selain itu, cemaran logam berat juga diuji. Hasilnya, kadar merkuri (Hg) relatif rendah. Dari beberapa pendekatan masih berada di kisaran yang sesuai untuk konsumsi beberapa porsi per minggu bila hanya mempertimbangkan parameter merkuri. Logam berat kadmium (Cd) tak terdeteksi di seluruh sampel yang diuji.
Tim peneliti juga menemukan kandungan timbal (Pb) pada dua individu ikan dengan nilai sekitar 0,41–0,42 mg/kg. Temuan ini menjadi perhatian karena memerlukan verifikasi melalui pengujian lanjutan. Prof Dr Bambang Retnoaji SSi, MSc dari Fakultas Biologi UGM menjelaskan, hasil penelitian masih gambaran awal. Belum cukup menyimpulkan ikan sapu-sapu aman dikonsumsi secara luas. Secara kandungan gizi ikan sapu-sapu berpotensi sebagai sumber protein rendah lemak. Namun keberadaan timbal di sebagian sampel menunjukkan aspek keamanan pangan harus menjadi perhatian utama. Diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar. “Lokasi penangkapan yang berbeda. Variasi ukuran ikan, analisis terhadap organ lain, dan sedimen habitat agar diperoleh gambaran yang lebih komprehensif,” jelas Bambang.Di sisi lain, pengujian mikrobiologi oleh BPPMHKP Yogyakarta menunjukkan sampel daging ikan sapu-sapu tak terdeteksi mengandung bakteri berbahaya. Pemeriksaan atas parameter Angka Lempeng Total (ALT), Escherichia coli, Salmonella sp., dan Coliform, memenuhi persyaratan keamanan mikrobiologi.Inspektur Mutu Aldino Dityanawarman mengungkapkapkan, hasil tersebut menunjukkan kondisi daging ikan saat diuji dalam keadaan baik dari sisi mikrobiologi. Meski demikian, aspek keamanan pangan bukan hanya ditentukan keberadaan bakteri. Tapi harus mempertimbangkan potensi cemaran kimia. Khususnya logam berat.
Dari sisi mikrobiologi, sampel yang diuji memenuhi hasil yang baik karena tidak ditemukan bakteri patogen sebagai parameter pengujian. Namun keamanan pangan harus dinilai secara menyeluruh. Karena itu, pengujian logam berat tetap dibutuhkan sebagai bagian dari penilaian risiko. “Sebelum ikan dimanfaatkan sebagai bahan pangan maupun bahan baku pakan,” ungkap Aldino.Dari kajian Fakultas Biologi UGM dan BPPMHKP Yogyakarta, pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan pangan tak hanya didasarkan tingginya kandungan protein. Keamanan bahan baku harus diverifikasi melalui pemantauan logam berat seperti Pb, Hg, Cd, dan idealnya arsen (As). Mempertimbangkan lokasi penangkapan serta tingkat pencemaran perairan asal ikan.Terpisah, Anggota Komisi B DPRD DIY Yan Kurnia Kustanto berharap, pengujian yang lebih komprehensif segera dilakukan. Hasilnya, diharapkan segera dapat diketahui. Diingatkan, bila ikan sapu-sapu hendak dimanfaatkan sebagai bahan baku produk pangan maupun pakan, harus berasal dari perairan yang tidak tercemar. Ditangani dengan baik, bersih, dan higienis. “Itu agar terhindar dari kontaminasi bakteri berbahaya selama proses pengolahan,” harap Yan. Kembali ke hasil pengujian, harapannya menjadi pijakan ilmiahpemerintah daerah merumuskan strategi pengendalian ikan invasif. Sekaligus mengembangkan peluang pemanfaatannya secara aman dan berkelanjutan. “Tidak mengabaikan aspek kesehatan masyarakat maupun kelestarian lingkungan,” pintanya. (kus) Editor : Sevtia Eka Novarita