BANTUL - Jika astrologi Barat memiliki 12 zodiak, masyarakat Jawa kuno mengenal 30 wuku dalam sistem pawukon.
Biasa digunakan untuk membaca karakter dan nasib seseorang.
Warisan tradisi zaman Mataram Kuno inilah yang kini dihidupkan kembali oleh belasan perupa lewat gaya kontemporer dalam pameran seni rupa "Nawikara Pawukon" di Imogiri, Bantul.
Bertempat di gedung Pustaka Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul, acara ini digelar selama lima hari.
Sekitar tiga puluh karya seni rupa bertema pawukon bertengger menghiasi dinding ruangan perpustakaan.
Dengan berbagai corak seni rupa mulai dari lukisan, batik, ilustrasi, mixed media, grafis, kriya, hingga kartun.
Karya-karya ciamik tersebut bertemakan horoskop Jawa atau Pawukon. Inspirasinya dari manuskrip kuno.
"Kami sebagai perupa tertantang untuk menerjemahkannya dalam bahasa gambar. Ini masih jarang diangkat. Dari situ kami juga mendapat kaweruh (ilmu, Red) semakin mengenali diri sendiri" kata Anto Sukanto ketua pameran, Sabtu (20/6/2026) sore.
Berbeda dengan zodiak yang berdasarkan rasi bintang, pawukon berdasarkan siklus kalender Jawa kuno.
Apabila zodiak memiliki 12 nama rasi bintang, pawukon mempunyai 30 nama wuku.
Masing-masing wuku berdurasi tujuh hari. Setiap wuku memiliki karakter tersendiri.
Mulai dari ramalan nasib, watak, dewa yang menaungi, tumbuhan yang ditanam, hewan peliharaan, harta kekayaan, arah kejayaan, hingga ramalan sial dan nahas.
Sebagai contoh wuku marakeh. Digambarkan orang yang lahir pada wuku ini mempunyai daya ingat yang kuat, tidak suka memelihara binatang, suka membantu namun kerap disalahartikan.
Tabiatnya terkesan suka pamer, namun suka berbagi. Memiliki gaya hidup gemi atau Frugal living atau berhemat.
Selain itu wuku ini juga mempunyai ramalan tentang mara bahaya berupa air. Sehingga diimbau untuk berhati-hati agar terhindar dari tenggelam.
Setiap perupa memisualisasikan wukunya masing-masing.
"Para perupa yang berjumlah belasan orang lintas generasi ini menginterpretasikan manuskrip menjadi sebuah karya seni," jelas Anto, pria paruh baya bersahaja yang gemar mengenakan bandana ini.
Adapun tujuannya, untuk mempermudah masyarakat memahami naskah kuno.
Lalu mewartakannya dalam bentuk gelaran pameran dan arsip katalog.
Peserta pameran di antaranya Abrams Gobrams, Andika Industriyana, Anto Sukanto, Badarwati, Didik Wahyu, Herpri Kartun, Ratih Artika Dewanti, Ruswanto, Subandi Giyanto, Mahendra Pampam, M. Yusuf Siregar, Natalia Afnita, Nova Retnawati, Novi Retnawati, Numan Maufur, dan Putra Eko Prasetyo.
Salah satu karya yang cukup unik milik M. Yusuf Siregar atau yang akrab disapa Bung Ucok.
Karyanya tidak sebagaimana umumnya di atas kanvas. Karyanya tersaji merespon kemasan sabun cair.
Ada tulisan wuku julung wangi lengkap dengan ilustrasi sifat-sifatnya. Tertera komplet pada kemasan.
Selain itu juga dibubuhkan kritik, sehingga dapat menjadi media pengingat agar selalu senantiasa mawas diri.
Lain lagi dengan karya Subandi Giyanto. Pensiunan guru SMSR Jogja ini konsisten melukis wukunya dengan gambar corak wayang.
Penataannya dinamis. Dibalut dengan warna-warna yang cerah. Enak dipandang mata.
Keseluruhan karya yang terpajang dapat memanjakan penglihatan pengunjung.
Pameran yang dibuka Sabtu (20/6/2026) sore ini berakhir pada Rabu (24/6/2026).
Gelaran ini diselenggarakan oleh komunitas Komporseni bekerja sama dengan Balai pelestarian kebudayaan wilayah X.
"Semangatnya nguri-uri kebudayan. Melestarikan ajaran masa lampau. Yang ternyata sudah ada sejak zaman Mataram kuno," kata Muhammad Fikri Muaz salah satu peserta pameran yang membuat karya dengan teknik grafis yang dicetak DTG di atas kanvas.
Pemuda jenaka murah senyum ini berasal dari Singosaren, Imogiri, Bantul. Ipik panggilan akrabnya. Dia sangat antusias dalam hal pelestarian kebudayaan Jawa.
Sedikit berbeda dengan ilustrasi pawukon yang sudah ada, karya dalam pameran ini lebih ke gaya kontemporer, kekinian, dan mengikuti zaman. Sesuai dengan judulnya Nawikara yang berarti kreasi baru. (hep/pra)
Editor : Herpri Kartun