Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Viral di Threads, SMAN 2 Bantul Bantah Tudingan Gangguan Mental yang Dialami Alumni

Cintia Yuliani • Rabu, 17 Juni 2026 | 20:45 WIB
Pengendara sepeda motor melintasi pintu masuk SMAN 2 Bantul. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
Pengendara sepeda motor melintasi pintu masuk SMAN 2 Bantul. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
 
BANTUL - Akun Threads bernama @gh05tx0 yang mengaku sebagai lulusan SMA Negeri (SMAN) 2 Bantul yang didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental (mental illness) setelah lulus sekolah. Dalam unggahannya, akun tersebut mengaku difitnah oleh seorang guru di sekolah tersebut karena dituduh melakukan kejahatan. Akibatnya, ia dijauhi teman-temannya hingga sempat memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup.
 
Utas yang diunggah pada 16 Juni itu mendapat 1.000 komentar dengan 4.500 tanda suka. Beberapa komentar turut membenarkan adanya kasus perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah. Menanggapi hal tersebut, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 2 Bantul Suwondo mengatakan, informasi yang beredar belum dapat dipastikan kebenarannya. Saat ini, tim IT sekolah tengah menelusuri identitas pemilik akun. Mengingat tidak jelasnya nama akun, dan nihilnya foto profil. "Kita di sini adalah sekolah ramah anak, jadi presepsi saja. Saya pikir tidak benar (utas tersebut, Red). Di situ akunnya akun tidak ada namanya, bodong," jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya Rabu (17/6).
 
Baca Juga: Delapan Wisatawan Tersengat Ubur-Ubur Impes, Pengunjung Pantai Selatan Diminta Tak Menyentuh Biota Laut Berwarna Biru
 
Menurutnya, unggahan utas tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan karena sumbernya tidak jelas. "Masih dalam tahap klarifikasi (ke pemilik akun, Red)," katanya.
 
Ia menambahkan, apabila pemilik akun tersebut benar merupakan alumni SMAN 2 Bantul, seharusnya dapat menyampaikan keluhan atau masukan secara langsung kepada pihak sekolah. "Karena secara hubungan bukan guru dan siswa lagi," katanya.
 
Terkait ajakan akun tersebut agar masyarakat tidak mendaftar di SMAN 2 Bantul, Suwondo menilai masyarakat dapat menilai sendiri rekam jejak sekolahnya. "Kita klarifikasi di medsos, takutnya jadi abu-abu semua," bebernya.
 
Baca Juga: Komisi II DPR RI Dorong Percepatan Sertifikasi Tanah Kasultanan dan Kadipaten, Ini Katanya
 
Sementara itu, Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMAN 2 Bantul Husna Nisrina turut menyampaikan hal serupa. Menurutnya, sekolah memiliki berbagai fasilitas pendampingan, termasuk layanan konseling terkait kesehatan mental siswa, sehingga siswa bisa langsung memanfaatkan fasilitas tersebut agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 
 
"Kami masih tabayun entah itu betul alumni atau mungkin orang lain yang mungkin pernah cerita atau apa," jelasnya.
 
Menurut Husna, isu kesehatan mental menjadi perhatian penting di sekolah. Tidak sedikit siswa yang datang untuk berkonsultasi terkait kecemasan, trauma, maupun persoalan psikologis lainnya. Ia menjelaskan, dalam layanan BK terdapat mekanisme alih tangan kasus dan diarahkan ke orang profesional apabila persoalan yang dihadapi siswa sudah berada di luar kewenangan guru BK dan membutuhkan penanganan tenaga ahli. Contohnya sekolah tersebut bekerja sama dengan Puspaga Bantul dan DIY. 
 
"Alhamdulillah kami dampingi ditemani ketika mau konseling dan alhamdulillah anaknya bisa kuliah dan bisa beraktivitas," tuturnya.
 
Baca Juga: Kericuhan di GIK, Kolektif Mahasiswa UGM Sebut Bentuk Kekecewaan dan Ketidakpercayaan pada Pemerintah
 
Menurutnya, kesadaran siswa terhadap kesehatan mental kini semakin meningkat. Banyak siswa yang lebih terbuka untuk mencari bantuan profesional saat mengalami masalah psikologis.
 
Dalam pelaksanaannya, layanan BK di SMAN 2 Bantul tidak hanya berupa konseling individu dan kelompok. Sekolah juga menjalankan program pencegahan melalui layanan di kelas, yang membahas berbagai isu terkini dan cara siswa menghadapinya. Selain layanan tatap muka, sekolah juga menyediakan layanan konsultasi secara daring. "Namanya curon atau curhat online, jadi anak juga 24 jam bisa bimbingan," katanya.
 
Selama guru masih dapat merespons, siswa diperbolehkan berkonsultasi kapan saja. Bahkan alumni lulusan 2024 yang membutuhkan informasi mengenai perkuliahan maupun hal lainnya masih tetap dilayani.
 
Radar Jogja sudah mencoba menghubungi pemilik akun pengunggah utah. Namun sampai berita ini diturunkan, pemilik akun masih belum memberikan respons. (cin)
Editor : Sevtia Eka Novarita
#SMA Negeri (SMAN) 2 Bantul #SMAN 2 Bantul #Gangguan Kesehatan #alumni #Threads