BANTUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul mencatat belum ada masyarakat yang mengajukan droping air selama musim kemarau. Namun, sejumlah tandon air berukuran 1.000 liter telah dipinjamkan ke sejumlah wilayah.
Sekretaris BPBD Bantul Ribut Bimo Haryo Tejo mengatakan, saat ini tandon air dipinjam oleh warga Srandakan. Setelah musim kemarau selesai, tandon akan ditarik kembali. Namun saat ditanya jumlah tandon yang tersedia dan sudah dipinjamkan, dia tak bisa merincinya. "Sudah ada beberapa tandon air yang kami pinjamkan," ujarnya Selasa (16/6).
Baca Juga: Polresta Sleman Monitor Kericuhan di GIK UGM, Sebut Tak Ada Mahasiswa yang Diamankan
Sementara permintaan droping air bersih, dia memperkirakan mulai masuk pertengahan hingga akhir Juli. Wilayah yang berpotensi terjadinya kekeringan pun tersebar di Dlingo, Imogiri, Pleret, Piyungan, Pandak, Pajangan, dan Srandakan.
"Menurut estimasi dan beberapa koordinasi musim kemarau kali ini bisa sampai November dan Desember," tuturnya.
Oleh karena itu, dia turut mengimbau masyarakat agar bijak dalam menggunakan air. Serta tetap menjaga kondisi tubuh dalam keadaan prima. "Apabila membakar sampah mohon dibikin lubang, ditunggu kalau terpaksa dibakar karena rentan sekali api merembet," pesannya.
Baca Juga: Tradisi Nawu Sendang Jadi Simbol Syukur Masyarakat Kaliberot Atas Sumber Air di Sumur Gedhe
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul Antoni Hutagaol mengatakan, anggaran awal untuk droping air telah disiapkan hingga Rp 20 juta. "Perkiraan anggaran tersebut bisa mencukupi distribusi sekitar 400 tangki air," jelasnya.
Sementara itu, Panewu Pajangan Anjar Arintaka Putra menuturkan, sampai saat ini warganya belum mengajukan droping air. Sebab, air di daerahnya masih mencukupi. "Biasanya kalau sudah memasuki bulan September atau Oktober, mulai kering dan meminta droping air," bebernya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita