Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tradisi Nawu Sendang Jadi Simbol Syukur Masyarakat Kaliberot Atas Sumber Air di Sumur Gedhe

Cintia Yuliani • Selasa, 16 Juni 2026 | 18:45 WIB
NGURI-URI BUDAYA: Warga Padukuhan Kaliberot, Argomuluo, Sedayu sedang menuangkan air saat pelaksanaan tradisi Nawu Sendang Sumur Gedhe Selasa (16/6). (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
NGURI-URI BUDAYA: Warga Padukuhan Kaliberot, Argomuluo, Sedayu sedang menuangkan air saat pelaksanaan tradisi Nawu Sendang Sumur Gedhe Selasa (16/6). (Cintia Yuliani/Radar Jogja)

BANTUL - Masyarakat Padukuhan Kaliberot, Argomulyo, Sedayu kembali menggelar tradisi Nawu Sendang Sumur Gedhe Selasa (16/6).  Ritual dimulai dengan kirab bregada menuju ke Sumur Gedhe. Barisan ini disusul oleh para penari, pembawa nasi megono, serta warga berbaju adat DIY yang membawa kendi. 

Setelah iring-iringan kirab tiba di area Sumur Gedhe, acara dilanjutkan dengan pementasan tari Ledek. Lalu prosesi doa bersama. Kemudian enam pemuda pembawa kendi, langsung menuangkan air ke dalam sumur. Setelah itu, acara ditutup dengan rebutan nasi megono.

 Baca Juga: Mahasiswa Merangsek, Kericuhan Warnai Acara di GIK UGM; Diskusi Dihentikan, Tiga Pejabat Negara Dievakuasi

Dukuh Kaliberot Supardi mengatakan, tradisi Nawu Sendang di Sumur Gedhe ini dilaksanakan setiap tanggal 1 Sura. Sebagai wujud rasa syukur warga setempat dengan adanya sumber mata air yang dulunya digunakan untuk sumber pengairan. Seperti mandi, memasak, hingga mengairi lahan pertanian. 

"Sumur Gedhe maknanya seperti Kaliberot. Sumbernya tidak rob, jadi airnya nggak pernah surut," jelasnya saat ditemui di sela acara Selasa (16/6). 

Namun saat ini, Sumur Gedhe tak lagi digunakan untuk mandi dan memasak warga. Sebab mayoritas masyarakat setempat telah menggunakan sambungan PDAM. Kini, sumur yang memiliki luas kurang lebih 100 meter persegi dengan kedalaman tiga meter ini masih dimanfaatkan untuk mengairi sawah. 

Baca Juga: Regrouping 26 Sekolah Dasar Kulon Progo Dipastikan Berlaku Pada Tahun Ajaran Baru 2026/2027

"Dulu pernah ditutup pakai beton agar airnya bersih, tapi malah airnya nggak begitu bagus, jadi dikeruk dan kembali seperti dulu lagi," lontarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Bantul Yanatun Yunadiana mengatakan, Sumur Gedhe merupakan sumber mata air untuk pansimas yang mengairi kurang lebih 200 keluarga di Padukuhan Kaliberot. "Selain melestarikan adat dan budaya, dapat melestarikan sumber daya air," katanya. 

Sementara itu, Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta menyebut, tradisi yang selalu dilaksanakan setiap tahun ini mencerminkan kerukunan masyarakat Kalibero. "Masyarakat yang guyub rukun dan kompak ini perlu kita pertahankan," sebutnya. (cin/eno)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Padukuhan Kaliberot #sumur gedhe #Nawu Sendang #tradisi #1 sura