BANTUL - Berawal banyaknya tetangga yang terkena demam berdarah (DBD), Yuli Pratiwi, warga Krapyak Wetan, Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, bertekad memberantas sarang nyamuk dengan cara sederhana.
Yakni, mengumpulkan sampah yang berserakan di lingkungan sekitar.
Kepedulian itu muncul setelah melihat tingginya kasus DBD di lingkungannya pada 2015. Bahkan ketiga anaknya juga sempat terserang penyakit itu.
"Karena di RT 3 ini banyak kebun, jadi sampah botol misalnya bisa jadi penampung air dan jadi sarang nyamuk," jelasnya saat ditemui di rumahnya, Minggu (14/6).
Berbekal pertemuan rutin ibu-ibu RT, Yuli mengajak warga lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.
Sampah anorganik seperti botol plastik yang berpotensi menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk dikumpulkan dan dijual.
Namun, pada awalnya tidak banyak warga yang tertarik ikut terlibat. Yuli bahkan harus berkeliling kampung seorang diri untuk mengambil sampah dari rumah ke rumah. Lambat laun, beberapa warga mulai ikut membantu hingga kegiatan tersebut semakin berkembang.
Sampah yang terkumpul kemudian disimpan di rumahnya sebelum dijual kepada pengepul. Seiring waktu, kesadaran warga mulai tumbuh.
Kegiatan yang semula hanya gerakan membersihkan lingkungan berkembang menjadi Bank Sampah Igakanas RT 3 pada 2017.
Tujuan utama pendirian bank sampah itu bukan sekadar mengelola sampah. Melainkan menumbuhkan kesadaran warga untuk memilah sampah dan menjaga kebersihan lingkungan. Upaya itu membuahkan hasil.
"Alhamdulillah sekarang sudah tidak ada kasus DBD di sini," katanya.
Keberhasilan tersebut menarik perhatian Pemerintah Kalurahan Panggungharjo. Pada 2018, Bank Sampah miliknya ditunjuk sebagai proyek percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Yuli juga kerap diminta menjadi narasumber dalam berbagai pelatihan pengelolaan sampah. "Kami juara 1 bank sampah tingkat lanjut se-DIJ, 2019," tuturnya.
Dari pengalaman itu, banyak bank sampah lain mulai bermunculan di sejumlah wilayah. Menurut Yuli, hal itu menjadi kebanggaan tersendiri karena semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap persoalan sampah.
"Senang kalau ada yang mengikuti," tuturnya.
Tidak hanya melayani warga Krapyak Wetan, Bank Sampah Igakanas sempat menerima setoran sampah dari berbagai wilayah di Bantul hingga Kota Jogja.
Untuk mendukung kegiatan itu, Yuli pernah menggunakan sepeda motor pribadi untuk menjemput sampah, sebelum akhirnya memperoleh bantuan kendaraan roda tiga pada 2019.
Saat ini, bank sampah yang dikelola tujuh pengurus itu menerima berbagai jenis sampah anorganik seperti plastik, botol, tas bekas, sepatu, dompet, hingga kain perca.
Sebagian dijual kembali, sebagian lain diolah menjadi produk kerajinan bernilai ekonomis.
Beragam produk yang dihasilkan, antara lain, pot tanaman dari kain bekas, tempat pensil dari botol plastik, tas, dan bantal dari limbah plastik, hingga sabun serta lilin berbahan minyak jelantah.
Produk-produk itu umumnya dibuat berdasarkan pesanan dari sekolah maupun masyarakat.
Selain mengelola sampah anorganik, warga RT 03 juga menerapkan pengolahan sampah organik melalui program satu rumah satu losida (lodong sisa dapur).
Program itu membuat volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir semakin berkurang.
Yuli mengatakan, sejak awal dirinya ingin pe
ngelolaan sampah tidak hanya mengandalkan semangat sosial. Oleh karena itu, sebagian hasil pengelolaan digunakan untuk memberikan insentif kepada para pengurus bank sampah.
"Pengurus juga harus dapat uang dari mengolah sampah," tambahnya. (laz)
Editor : Herpri Kartun