BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat Tuberkulosis (TBC) di Bantul sejak Januari- Mei mencapai 475 kasus. Pengidap penyakit ini didominasi orang dewasa sebanyak 224 kasus, 154 anak-anak, dan 97 lansia.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul Samsu Aryanto mengatakan, Kapanewon Banguntapan menjadi wilayah dengan kasus terbanyak. "Banguntapan 50 kasus, dilanjutkan Sewon 48 kasus, dan Bantul 34 kasus," bebernya Senin (8/6).
Baca Juga: Inflasi Terus Meroket, Legislatif Kota Jogja Usul Penggelontoran KUR Daerah
Menurutnya kepadatan dan mobilitas penduduk, serta perilaku merokok merupakan salah satu faktor risiko terbesar penularan kasus TBC. Meski demikian, anak-anak juga rentan terkena TBC lewat percikan ludah yang mengandung bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Selain itu, adanya kontak erat dengan penderita TBC dewasa juga bisa memengaruhi penularan.
Selain itu, lanjutnya, kekebalan dan status gizi yang belum optimal memengaruhi kerentanan anak terhadap penularan penyakit. Ditambah dengan kualitas lingkungan dan sanitasi juga menjadi salah satu faktor risiko penularan penyakit.
Maka dari itu, Dinkes Bantul terus melakukan upaya mengatasi TBC di Bantul dengan cara skrining lewat active case finding (ACF). Mendorong masyarakat untuk melakukan pengobatan sesegera mungkin sejak terdiagnosa TBC. "Serta melakukan investigasi kontak pada kontak serumah pasien TBC," lanjutnya.
Pihaknya mengimbau masyarakat untuk segera datang ke layanan kesehatan apabila batuk lebih dari satu minggu yang tidak kunjung sembuh. Agar petugas kesehatan bisa melakukan skrining kesehatan untuk mendiagnosa lebih dini. Sehingga penyakit bisa teratasi dengan lebih cepat.
Baca Juga: Menteri HAM Usul Jabatan Utama Polri Bisa Diisi Sipil, Kapolri dan Istana Buka Suara
Pihaknya juga memberi pemahaman kepada masyarakat, bahwa TBC adalah penyakit yang dapat disembuhkan. "Pengobatan TBC juga diberikan secara gratis di layanan kesehatan," katanya.
Sementara itu, Sekretaris Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bantul Herry Fahamsyah mengatakan, TBC termasuk penyakit menular sehingga perlu dilakukan langkah preventif dan represif. Guna mencegah penularan, sosialisasi terkait budaya hidup sehat dan penyakit TBC diperlukan. "Pastikan obat (di layanan kesehatan, Red) tersedia dan juga bagaimana penularan TBC ini bisa dicegah," imbaunya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita