Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dinkes Bantul Catat 224 dari 475 Kasus TBC Didominasi Usia Dewasa

Cintia Yuliani • Senin, 8 Juni 2026 | 20:45 WIB
ANTRE: Para pasien sedang menunggu antrean di RSUD Panembahan Senopati. Saat ini, kasus TBC di Bantul mencapai 475 kasus, dewan minta adanya sosialisasi. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
ANTRE: Para pasien sedang menunggu antrean di RSUD Panembahan Senopati. Saat ini, kasus TBC di Bantul mencapai 475 kasus, dewan minta adanya sosialisasi. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)

BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat Tuberkulosis (TBC) di Bantul sejak Januari- Mei mencapai 475 kasus. Pengidap penyakit ini didominasi orang dewasa sebanyak 224 kasus, 154 anak-anak, dan 97 lansia.

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul Samsu Aryanto mengatakan, Kapanewon Banguntapan menjadi wilayah dengan kasus terbanyak. "Banguntapan 50 kasus, dilanjutkan Sewon 48 kasus, dan Bantul 34 kasus," bebernya Senin (8/6).

Baca Juga: Inflasi Terus Meroket, Legislatif Kota Jogja Usul Penggelontoran KUR Daerah 

Menurutnya kepadatan dan mobilitas penduduk, serta perilaku merokok merupakan salah satu faktor risiko terbesar penularan kasus TBC. Meski demikian, anak-anak juga rentan terkena TBC lewat percikan ludah yang mengandung bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Selain itu, adanya kontak erat dengan penderita TBC dewasa juga bisa memengaruhi penularan.

Selain itu, lanjutnya, kekebalan dan status gizi yang belum optimal memengaruhi kerentanan anak terhadap penularan penyakit. Ditambah dengan kualitas lingkungan dan sanitasi juga menjadi salah satu faktor risiko penularan penyakit.

Baca Juga: BRIN Turun Gunung Ikut Selidiki Rumah Api Seyegan, Ragu dengan Penyebab Fermentasi Limbah Pemotongan Ayam

Maka dari itu, Dinkes Bantul terus melakukan upaya mengatasi TBC di Bantul dengan cara skrining lewat active case finding (ACF). Mendorong masyarakat untuk melakukan pengobatan sesegera mungkin sejak terdiagnosa TBC. "Serta melakukan investigasi kontak pada kontak serumah pasien TBC," lanjutnya.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk segera datang ke layanan kesehatan apabila batuk lebih dari satu minggu yang tidak kunjung sembuh. Agar petugas kesehatan bisa melakukan skrining kesehatan untuk mendiagnosa lebih dini. Sehingga penyakit bisa teratasi dengan lebih cepat.

Baca Juga: Menteri HAM Usul Jabatan Utama Polri Bisa Diisi Sipil, Kapolri dan Istana Buka Suara

Pihaknya juga memberi pemahaman kepada masyarakat, bahwa TBC adalah penyakit yang dapat disembuhkan. "Pengobatan TBC juga diberikan secara gratis di layanan kesehatan," katanya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bantul Herry Fahamsyah mengatakan, TBC termasuk penyakit menular sehingga perlu dilakukan langkah preventif dan represif. Guna mencegah penularan, sosialisasi terkait budaya hidup sehat dan penyakit TBC diperlukan. "Pastikan obat (di layanan kesehatan, Red) tersedia dan juga bagaimana penularan TBC ini bisa dicegah," imbaunya. (cin/eno) 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul #tuberkulosis (TBC) #dinkes bantul #tbc #kasus