BANTUL - Jasa penggilingan daging di Bantul tak mengalami peningkatan permintaan seperti Idul Adha tahun lalu. Turunnya peminat untuk jasa olahan daging dirasakan Ahmadi, 50.
"Sekarang sehari tiga kuintal, tahun kemarin bisa delapan sampai sepuluh kuintal," beber pemilik penggilingan skala besar di Pasar Bantul Senin (1/6).
Ahmadi menilai, penurunan aktivitas penggilingan daging saat Idul Adha dipengaruhi oleh tingginya harga bahan pokok. Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sehingga masyarakat cenderung menekan pengeluaran dan tidak menggunakan jasa penggilingan seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Ibu-ibu ngeluh bumbu dapur yang dulunya bisa dibeli Rp 10 ribu, sekarang uang segitu nggak dapat," rincinya.
Untuk pembuatan bakso dengan tambahan tepung dan bumbu, dia mematok tarif Rp 30 ribu per kilogram. Biaya itu tidak termasuk jasa penggilingan sebesar Rp 10 ribu per kilogram.
Sementara itu, Fitriana pemilik usaha penggilingan daging skala kecil di Pasar Bantul pun merasakan hal yang sama. "Rame tahun kemarin, sekarang satu hari sekitar 50 kilogram, sebelumnya sekitar 60 kilogram," sebutnya.
Dia menduga, fenomena ini dipengaruhi kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Sehingga masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang. "Paling banyak daging kurban dibuat bakso, per kilogram saya beri jasa 30 ribu," tuturnya.
Warga Bantul, Tini, 45, mengaku, memilih untuk mengolah daging kurbannya di rumah. Sebab olahan dagingnya tidak hanya dibuat bakso. "Biar bervariasi, biar nggak bosen," katanya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita