Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Regenerasi jadi Kunci, Pawai Takbir IRM Jambidan bisa Bertahan 30 Tahun

Cintia Yuliani • Jumat, 29 Mei 2026 | 16:10 WIB
Para peserta IRM Jambidan dari berbagai kelompok sedang menampilkan penampilan terbaiknya - Dokumentasi Pemkab Bantul
Para peserta IRM Jambidan dari berbagai kelompok sedang menampilkan penampilan terbaiknya - Dokumentasi Pemkab Bantul

BANTUL - Pawai takbir terbesar dan tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang digelar IRM Jambidan kembali menyedot perhatian ribuan warga Kamis (28/5) malam.

Kegiatan yang mengambil rute dari Lapangan Potorono hingga Lapangan Jambidan, Banguntapan itu diikuti 14 kelompok dari berbagai daerah di DIJ hingga luar kabupaten.

Ketua Panitia Pawai Takbir IRM Jambidan Naufal Mustafa Rustam mengatakan, pawai takbir ini telah berlangsung selama 30 tahun dan terus bertahan hingga kini berkat kuatnya sistem regenerasi di kalangan pemuda.

“Awalnya dari angkatan orang tua kami, sekitar tahun 90-an. Sekarang sudah sampai anak bahkan cucu yang ikut. Regenerasi di IRM Jambidan ini kuat sekali,” ujarnya saat ditemui di Lapangan Potorono Kamis (28/5). 

Baca Juga: Nor Jayadi Ciptakan Buffalo Lazy Chair, Kursi Estetik Berbahan Kayu Jati dan Kulit Kambing

Ia menambahkan, keberlangsungan kegiatan ini tidak lepas dari kolaborasi lintas generasi. Para senior tetap terlibat tanpa mendominasi, sementara generasi muda diberi ruang untuk mengelola kegiatan.

“Bapak-bapak, mas-mas, sampai pemuda sekarang tetap saling bantu. Jadi bisa bertahan sampai 30 tahun,” imbuhnya.

Tak hanya sebagai tradisi, pawai takbir ini juga menjadi sarana syiar Islam yang terbuka bagi siapa saja. Peserta datang dari berbagai wilayah seperti Sleman, Gunungkidul, Kulon Progo, hingga luar Bantul.

“Tidak ada batasan. Siapa saja boleh ikut selama mampu dan siap,” katanya.

Tahun ini, sebanyak 14 kelompok ambil bagian. Masing-masing kelompok disebut bisa melibatkan sedikitnya 150 hingga 200 orang, sehingga total peserta mencapai ratusan hingga ribuan orang yang terlibat dalam pergerakan pawai.

Menariknya, setiap kelompok menampilkan konsep berbeda. Mulai dari tema alam, sejarah Islam, hingga konsep kreatif yang tak biasa seperti sirkus pada tahun sebelumnya.

“Panitia tidak membatasi tema. Jadi kreativitas peserta benar-benar keluar,” jelasnya.

Hadiah utama dalam kegiatan ini pun terbilang unik, yakni hewan kambing. Namun, bagi peserta, nilai utama bukan pada hadiah, melainkan gengsi dan kebanggaan menjadi juara umum.

Antusiasme warga terlihat sejak ba’da magrib. Sepanjang jalur pawai, masyarakat telah menggelar tikar di pinggir jalan untuk menyaksikan arak-arakan. Tak sedikit pula pelaku UMKM yang memanfaatkan momentum ini untuk berjualan makanan, minuman, hingga mainan anak.

Salah satu peserta IRM Jimbadan Giono, 45, dari kelompok Risma Pringgolayan Modalan mengaku, telah empat kali mengikuti pawai ini. Ia menyebut keterlibatannya murni untuk syiar Islam sekaligus menjaga tradisi.

"Yang kedua, memang kita sudah sering sekali mengikuti kayak gini. Walaupun tidak seperti yang kita harapkan, mendapat juara," jelasnya. 

Baca Juga: Puji Atmosfer Sepak Bola Sleman, Ansyari Lubis Dipastikan Bertahan di PSS

Kelompoknya yang berasal dari Padukuhan Pringkolayan, Modalan, Kalurahan Banguntapan, Kapanewon Banguntapan, dan Gendongan, Kota Jogja tahun ini mengusung tema Taman Surga yang menggambarkan keindahan kehidupan setelah kematian. Konsep tersebut divisualisasikan melalui kostum warna-warni, bunga, kupu-kupu, hingga properti taman yang meriah.

“Kami ada adegan seseorang tertidur lalu bermimpi tentang taman surga. Di sana penuh keindahan dan bidadari,” jelasnya.

Persiapan dilakukan selama sekitar dua bulan, dengan masa produksi intensif hingga satu bulan penuh. Latihan dan pembuatan properti bahkan dilakukan hingga larut malam demi mengejar target penampilan.

Kelompoknya disebut telah beberapa kali mengikuti berbagai ajang serupa di wilayah Bantul dan sekitarnya. Setelah sempat vakum pada 2015, pihaknya kembali aktif dan terus berpartisipasi hingga sekarang.

Menurutnya, meski hadiah yang diperebutkan hanya kambing, semangat peserta tidak pernah surut. “Bukan soal hadiah, tapi kebanggaan dan prestise kalau bisa juara umum,” pungkasnya. (cin)

Editor : Bahana.
#pawai takbir irm #Yogyakarta #DIY